AXA Tower Kuningan City

COMODITY

Sesuatu benda nyata yang relatif mudah di perdagangkan, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh Investor melalui bursa berjangka

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Jl. Prof. DR. Satrio Kav. 18 Kuningan Setia Budi, Jakarta 12940 Telp : (021)30056300, Fax : (021)30056200

Transaksi anda kami jamin aman dari virus, hacker atau gangguan sejenisnya. Karena trading platfoen kami telah terproteksi sangat baik

Tampilkan postingan dengan label bursa efek indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bursa efek indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Januari 2018

Selasar Tower II BEI Ambruk, Banyak Mahasiswa yang Luka | PT RFB

Jakarta, PT Rifan Financindo - Banyak korban terluka karena ambruknya selasar Tower II Bursa Efek Indonesia (BEI). Banyak mahasiswa yang juga menjadi korban karena berada di bawah selasar yang ambruk itu.

"Ada mahasiswa yang luka, mereka jalan di bawahnya," ujar seorang saksi bernama Riko Dhika ketika dihubungi detikcom, Senin (15/1/2018).

Riko mengaku melihat para korban mengalami luka di kepala dan yang lainnya terluka di beberapa bagian tubuh. Selain itu, para korban diduga mengalami patah tulang karena terjatuh dari lantai 1 ke lantai dasar.

"Korban luka ringan, ada yang kepala benjol sampai ke badannya berdarah, kaki-kaki berdarah," sebut Riko.

Ambruknya selasar lantai 1 BEI terjadi sekitar pukul 12.10 WIB. Saat ambruk, terdengar suara kencang yang sempat dikira ledakan. Belum diketahui penyebab ambruknya selasar.

Dari foto yang ada, terlihat belasan mahasiswa yang mengenakan jaket almamater berwarna biru dongker duduk di depan gedung BEI. Mereka terluka. 

sumber: detik

Baca juga:

Kamis, 01 Oktober 2015

Anjlok 58%, Saham Taksi Express Dibekukan

Anjlok 58%, Saham Taksi Express Dibekukan
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Saham PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) dihentikan sementara (suspensi) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Sahamnya anjlok 58,61% dalam waktu dekat.

Pada penutupan perdagangan 11 September 2015, harga saham operator taksi itu berada di level Rp 720 per lembar. Harga sahamnya pun turun Rp 422 menjadi Rp 298 pada penutupan perdagangan 30 September 2015.

"Maka BEI perlu melakukan penghentian sementara saham TAXI dalam rangka cooling down pada perdagangan tanggal 1 Oktober 2015," kata Kadiv Operasional Perdagangan BEI, Eko Siswanto dalam keterangan tertulis, Kamis (1/10/2015).

Penghentian sementara perdagangan saham TAXI ini dilakukan di pasar reguler dan tunai. Tujuannya supaya pelaku pasar dapat waktu memadai untuk mempertimbangkan secara matang pengambilan keputusan investasinya.

"Para pihak yang berkepentingan diharapkan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan," ujarnya.

Sumber: http://finance.detik.com

Jumat, 14 Agustus 2015

Nilai Saham di Bursa Efek Indonesia Merosot Rp 776 Triliun

perkiraan-ekonomi-tekan-laju-rupiah-rwFDfLgbrD
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Pekan ini adalah masa kelabu bagi pasar saham Indonesia. Pada Rabu (12/8/2015) lalu, Indeks Harga Saham Gabungan anjlok ke 4.479,49. Ini level terendah indeks saham selama 18 bulan terakhir. Tetapi, Kamis (13/8/2015) kemarin  IHSG kembali bangkit 2,34 persen pada 4.584,25.
Mayoritas harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)  rontok. Hal itu tercermin dari nilai kapitalisasi pasar BEI kemarin senilai Rp 4.759,07 triliun. Angka itu sudah merosot Rp 776,41 triliun atau anjlok 14 persen dibandingkan posisi terbaiknya tahun ini senilai Rp 5.535,48 triliun. Angka tersebut tercatat pada pekan kedua April 2015.
Longsornya kapitalisasi pasar BEI juga mempengaruhi peta emiten penguasa di Bursa Efek Indonesia.
Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan melihat adanya perubahan komposisi emiten berkapitalisasi pasar besar. Saat ini, 10 emiten dengan kapitalisasi pasar tertinggi di BEI meliputi HMSP dengan porsi 7,4 persen total kapitasilasi, BBCA 6,8 persen, TLKM dan UNVR masing-masing 6 persen, ASII 5,5 persen. Kemudian BBRI, BMRI, GGRM, BBNI dan PGAS.
Pada Maret 2015, saat IHSG mulai menanjak, emiten yang berada di puncak kapitalisasi pasar BEI adalah BBCA dengan porsi 6,51 persen, ASII 6,25 persen, BBRI 5,84 persen. Selanjutnya HMSP, UNVR, TLKM, BMRI, BBNI, serta PGAS.
Alfred menyebutkan, risiko yang terjadi di pasar membuat semua sektor terimbas. Meski begitu, ada pengecualian pada HMSP karena jumlah saham beredarnya cuma 1,82 persen. Likuiditas HMSP yang mini tak merefleksikan kondisi saat ini. Sehingga anak usaha Philip Morris ini menduduki posisi teratas emiten berkapitalisasi pasar jumbo. “Jumlah saham beredarnya sedikit. Sehingga membentuk harga jauh lebih mudah,” ucap Alfred, kemarin.
Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai, posisi BBCA sebagai penguasa kapitalisasi bergeser karena sahamnya terkoreksi cukup tajam. Dia mencermati, saham bank seperti BBCA, BBRI dan BMRI sudah anjlok dalam. Selain itu, saham ASII pun terjun karena lesunya penjualan otomotif.
Alfred melihat, saham BBNI dan BBRI terbilang murah. Menurut dia,price book value (PBV) BBNI bisa di posisi 1,8 kali. Tapi saat ini PBV BBNI hanya 1,5 kali.
Jika pasar modal kembali normal, saham berkapitalisasi besar akan kembali ke harga wajarnya. Hans memprediksi, IHSG masih berfluktuasi selama dua bulan ke depan. Sebab, nilai yuan Tiongkok masih berpeluang menyusut. Hans menyebut, China akan mendevaluasi yuan hingga target 7 persen-8 persen. “Selama yuan turun, pasar masih akan gonjang-ganjing,” ucap dia. (Annisa Aninditya Wibawa)

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/