AXA Tower Kuningan City

COMODITY

Sesuatu benda nyata yang relatif mudah di perdagangkan, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh Investor melalui bursa berjangka

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Jl. Prof. DR. Satrio Kav. 18 Kuningan Setia Budi, Jakarta 12940 Telp : (021)30056300, Fax : (021)30056200

Transaksi anda kami jamin aman dari virus, hacker atau gangguan sejenisnya. Karena trading platfoen kami telah terproteksi sangat baik

Tampilkan postingan dengan label harga ayam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harga ayam. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2016

Ini Penyebab Harga Ayam Melonjak Hingga Rp 35.000/Ekor di Awal Tahun

Ini Penyebab Harga Ayam Melonjak Hingga Rp 35.000/Ekor di Awal Tahun
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Harga jagung lokal yang melonjak tajam sejak Oktober tahun lalu. Ditambah larangan impor jagung, membuat harga pakan ayam melonjak drastis. Dampaknya, harga ayam hidup di tingkat peternak dan pedagang pasar ikut melambung. Di Jakarta, harga daging ayam saat ini dipatok Rp 35.000/ekor.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), FX Sudirman mengatakan, kenaikan harga ayam akhir-akhir ini yang paling dominan dipengaruhi oleh kenaikan harga pakan ayam.

Hal ini merupakan imbas mahalnya harga jagung di tingkat petani, di sisi lain penggunaan jagung impor sampai saat ini masih dilarang Kementerian Pertanian (Kementan).

"Sekarang harga jagung lokal sudah Rp 6.500/kg, tapi impor dilarang. Jagung yang sudah di gudang disegel, karena Kementan beralasan itu akan merusak harga di petani. Kalau jagung mahal, produsen pakan bebankan ke peternak, akhirnya harga ayam hidup di konsumen ikut mahal," ujarnya pada detikFinance, Senin (25/1/2016).

Menurut Sudirman, pengusaha pakan juga mendukung serapan jagung dari petani. Namun seharusnya Kementan juga bisa melihat kondisi jagung di lapangan yang memang sedang mengalami kelangkaan.

"Ini masalah suplai dalam negeri, silakan dibatasi (impor jagung), tapi harus lihat timing. Karena akhir tahun sampai sekarang panen jagung terlambat, baru mulai hujan kan setelah kekeringan panjang. Harga jagung lokal sudah Rp 6.500/kg," ungkapnya.

Berdasarkan data GPMT, lonjakan harga jagung lokal sudah terjadi sejak Agustus tahun lalu yakni Rp 3.600/kg dari harga sebelumnya Rp 3.200/kg. Kemudian naik menjadi Rp 4.800/kg pada November, kemudian di akhir tahun menjadi Rp 5.500/kg. Sementara di Januari harga jagung lokal sudah mencapai Rp 6.500/kg.

Dia melanjutkan, kondisi ini diperparah dengan ditahannya pasokan 600.000 ton dari sisa kuota impor tahun lalu oleh Kementan. Saat ini jagung impor tersebut dilarang dikeluarkan dari gudang, sebagian lagi masih tertahan di pelabuhan.

"Realistis saja, kita dukung pemerintah, tapi kalau hujan nggak turun bagaimana? Data Kementan menyatakan produksi surplus, tapi kenyataan di lapangan harganya Rp 6.500/kg, itu tanda permintaan melampaui pasokan yang ada," tutupnya.


Sumber: http://finance.detik.com/

Senin, 24 Agustus 2015

Keterlaluan Jika Harga Ayam Terus Naik

\Keterlaluan Jika Harga Ayam Terus Naik\
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Penyuka ayam goreng, opor ayam, ataupun masakan lainnya yang terbuat dari daging ayam, tampaknya harus bersabar lebih ekstra untuk menunggu daging ayam kembali turun harganya.
Daging favorit hampir semua orang ini memang sulit sekali turun harganya sejak seminggu terakhir, dan ini membuat masyarakat tersiksa. Terutama golongan pedagang nasi di warteg, maupun para bandar ayam yang menyuplai ayam ke pasar-pasar.
Di Pasar Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat, pada Jumat (21/8/2015) pekan lalu, misalnya daging ayam ini menembus harga Rp38 ribu/kg, sesuatu yang sangat jarang terjadi, bahkan pada saat Lebaran sekalipun. Ini membuat daging ayam yang dijual di kios milik Emah (46) menjadi tidak laku. Emah yang menggelar dagangannya sejak subuh, hingga pukul 09.00 WIB tidak mendapatkan satu pun pembeli.
“Kalaupun ada yang datang menawar hingga Rp35 ribu/kg, saya tidak mau menjual harga segitu, rugi dong dagangan saya,” katanya.
Emah sendiri tidak mengerti kenapa harga daging ayam ini terus meroket. Menurutnya, keterlaluan kalau harga daging ayam ini terus naik dan sulit turun dalam seminggu ke depan.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Cirebon H Syarif mengungkapkan, permintaan akan daging ayam memang sedang melonjak tinggi.
“Faktor banyaknya hajatan yang digelar saat ini juga merupakan salah satu pemicunya, bayangkan saja ada berapa jumlah masyarakat yang menggelar hajatan seusai Lebaran kemarin. Mereka membeli daging ayam dengan partai besar dan dengan waktu yang hampir bersamaan, hukum pasar saat ini sedang berlaku. Banyak permintaan membuat stok menipis dan akhirnya membuat harga melonjak,” jelas Syarif.
Menurutnya, subtitusi dari daging sapi yang memang mengalami kenaikan harga beberapa waktu lalu ke daging ayam pun merupakan pemicu lainnya.
“Ini pun tidak bisa terhindarkan. Saya akui memang harganya melebihi saat Lebaran, tapi kami akan pantau terus harga daging ayam dari waktu ke waktu,” tuturnya.
Untuk operasi pasar khusus daging ayam, menurutnya, belum ada kebijakan dari Pemerintah Kota Cirebon terkait ini.
“Saya masih menunggu, tapi Senin lusa besok kami akan turun kembali ke delapan pasar tradisional. Kami akan mengecek perkembangan terbarunya pada Senin, sekaligus melaporkan kepada walikota. Nanti hasil dari laporan ini apakah beliau akan langsung menggelar operasi pasar atau tidak tergantung dari situasi Senin besok, apakah sudah turun atau belum harganya,” jelasnya.

Sumber: http://economy.okezone.com/