AXA Tower Kuningan City

COMODITY

Sesuatu benda nyata yang relatif mudah di perdagangkan, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh Investor melalui bursa berjangka

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Jl. Prof. DR. Satrio Kav. 18 Kuningan Setia Budi, Jakarta 12940 Telp : (021)30056300, Fax : (021)30056200

Transaksi anda kami jamin aman dari virus, hacker atau gangguan sejenisnya. Karena trading platfoen kami telah terproteksi sangat baik

Tampilkan postingan dengan label harga minya dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harga minya dunia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Oktober 2016

Minyak di atas Level $ 50 terkait Stok Minyak AS | PT Rifan Financindo Berjangka


Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Minyak diperdagangkan di atas level $ 50 per barel setelah stok AS turun untuk minggu kelima berturut-turut dan OPEC berjanji untuk mengurangi stok sehingga memicu optimisme berkurangnya surplus global.

Futures sedikit berubah di New York setelah naik 1,2 persen pada hari Kamis dan ditutup di atas $ 50 per barel untuk pertama kalinya sejak Juni. Stok minyak mentah AS turun ke bawah 500 juta barel pekan lalu untuk pertama kalinya sejak Januari, data pemerintah menunjukkan Rabu. OPEC berjanji di Aljazair pekan lalu untuk mengurangi output kelompok menjadi sekitar 32.5 juta -33 juta  barel per hari dalam upaya untuk mengurangi surplus stok minyak mentah dunia dan meningkatkan harga.

Minyak telah naik sekitar 13 persen sejak Organisasi Negara Pengekspor Minyak setuju untuk memotong produksi untuk pertama kalinya dalam delapan tahun pada 28 September lalu. OPEC, yang memompa minyak pada rekor tertingginya bulan September, akan memutuskan kuota pada pertemuan resmi kelompok di Wina pada 30 November. Sementara itu, Hurricane Matthew sedang menuju Tenggara AS dan dapat mengganggu pengiriman bahan bakar East Coast.

West Texas Intermediate untuk pengiriman November di level $ 50,52 per barel di New York Mercantile Exchange, naik 8 sen, pada pukul 09:50 pagi waktu Sydney. Kontrak naik 61 sen ke level $ 50,44 pada hari Kamis. Total volume perdagangan yakni sekitar 69 persen di bawah rata-rata 100-hari.

Brent untuk pengiriman Desember naik 65 sen, atau 1,3 persen, ke level $ 52,51 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, Kamis. Minyak mentah acuan global mengakhiri sesi pada premium $ 1,53 untuk WTI Desember. 

Senin, 06 Juni 2016

Memetik Hikmah dari Turunnya Harga Minyak Dunia

Memetik Hikmah dari Turunnya Harga Minyak Dunia
 
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) mengalami masa-masa sulit dalam dua tahun terakhir. Harga minyak dunia yang relatif stabil di atas US$100 per barel selama tiga setengah tahun terakhir menurun tajam di awal 2014 akibat kelebihan pasokan. Kontraksi ekonomi di berbagai belahan dunia mengakibatkan harga minyak semakin tertekan.
Kondisi ini tentu menekan gerak industri hulu migas di seluruh dunia. Perusahaan migas baik yang multinasional maupun pelat merah mengalami penurunan investasi. Menurut kajian Wood Mackenzie, secara global di tahun 2015 terjadi penurunan investasi untuk eksplorasi dan produksi migas sebesar sekitar 20 persen dibanding tahun 2014. Industri hulu migas Indonesia mengalami hal yang sama.

Data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menunjukkan investasi kontraktor yang berada pada tahap produksi mencapai US$15,1 miliar di 2015 atau turun 22% dibandingkan dengan realisasi investasi di tahun 2014. Tren yang sama juga ditemukan pada kontraktor migas yang berada pada tahapan eksplorasi. Nilai investasi mereka pada tahun 2015 hanya sebesar US$0,52 miliar atau turun 53% dibandingkan dengan realisasi investasi tahun 2014.

Rendahnya harga minyak dan lesunya investasi tentu memiliki dampak ke berbagai aspek. Mengutip data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2016, dana bagi hasil untuk wilayah produsen minyak pun anjlok dari Rp 42,91 triliun pada 2014 menjadi Rp 14,09 triliun pada tahun 2015.

Selain menggerus penerimaan negara, kondisi ini juga membuat upaya-upaya menemukan cadangan migas baru demi ketahanan energi masa depan terhambat. Penawaran delapan blok migas di akhir 2015 yang dilakukan pemerintah gagal mendapatkan pemenang. Tidak hanya itu, kegiatan di wilayah kerja eksplorasi yang sudah memiliki kontraktor pun banyak yang tidak berjalan. Selain mengancam ketersediaan energi migas di masa depan, menurunnya kegiatan kontraktor ini juga berdampak pada sektor lain yang selama ini ikut merasakan berkah dari kehadiran industri hulu migas.

"Banyak kontraktor migas melakukan efisiensi dan menghentikan kegiatan investasi, sehingga sektor industri penunjang migas juga mengalami kelesuan akibat tidak ada investasi," kata Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution saat membuka Pameran dan Konvensi Asosiasi Perusahaan Migas (Indonesian Petroleum Association/IPA) di Jakarta akhir Mei 2016 lalu.

Kondisi ini tentu memerlukan jalan keluar secepat mungkin. SKK Migas dan kontraktor telah melakukan beberapa upaya untuk tetap menjalankan operasi migas di tengah harga yang tidak ramah. Salah satu yang dilakukan adalah efisiensi penggunaan pengeluaran modal dan pengeluaran operasi. Selain itu, industri hulu migas juga melakukan negosiasi harga dengan penyedia barang dan jasa supaya kegiatan hulu migas masih dapat berlangsung dengan nilai ekonomi yang cukup memadai.

Solusi-solusi tersebut menjadi alternatif untuk tetap menjalankan industri hulu migas di tengah situasi yang sulit. Namun, pemerintah menyadari bahwa untuk menjaga industri ini dalam jangka panjang, perlu kebijakan-kebijakan yang dapat memperbaiki iklim investasi sektor strategis ini.

Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) IGN Wiratmaja Puja dalam berbagai kesempatan telah menyampaikan bahwa Indonesia perlu memberikan penawaran yang lebih menarik bagi investor. ""Lelang yang tidak laku menunjukkan Indonesia kurang atraktif bagi investor. Banyak (investor) yang sudah beralih ke tempat-tempat lain, seperti Vietnam. Kita harus membuka diri. Kita membuat (kebijakan) yang lebih atraktif supaya mereka balik lagi," ujarnya.

Termasuk kebijakan membuka diri tersebut antara lain dengan memberikan insentif bagi kegiatan usaha hulu migas melalui kebijakan fiskal, memperpanjang masa eksplorasi dan mempermudah perizinan. Dalam lelang wilayah kerja migas tahun 2016, pemerintah sudah mulai menawarkan konsep baru. Di antaranya adalah dengan memberikan kesempatan kepada investor untuk mengajukan penawaran bagi hasil yang atraktif buat mereka serta memenuhi keekonomian proyek yang diharapkan pemerintah. Selain itu, pemerintah saat ini juga sedang menggodok regulasi supaya proyek hulu migas di laut dalam dapat menjadi peluang investasi yang atraktif bagi investor.

"Kita lagi dalam proses mempersiapkan regulasi khusus untuk laut dalam supaya bisa atraktif dengan negara-negara lain," ujar Wirat.

Upaya-upaya seperti ini tentunya perlu diikuti langkah-langkah lain yang lebih serius dalam menata ulang dasar-dasar industri migas Indonesia. Ini selaras dengan pernyataan Menko Perekonomian Darmin Nasution yang mengatakan bahwa merosotnya investasi dalam dua tahun terakhir tidak semata-mata karena rendahnya harga minyak, tetapi juga karena disain kebijakan.

Menurutnya, produksi minyak bumi Indonesia yang sudah turun secara konsisten semenjak awal tahun 2000 menunjukkan bahwa, setelah krisis Asia di tahun 1998, sektor hulu migas belum selesai dibenahi. Saat ini pembenahan sektor ini sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi. "Penyederhanaan perizinan tidak cukup. Kita perlu masuk sampai ke disain dasar sektor ini," ujarnya seraya menambahkan bahwa perbaikan ini tidak hanya perlu dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tetapi berbagai pihak, baik dari Kementerian Keuangan, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian Agraria dan Badan Pertanahan, bahkan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Perekonomian dunia pada 2016 diperkirakan masih tetap belum akan pulih sepenuhnya. Harga minyak dunia pun masih belum dapat dipastikan terus naik ke posisi di atas US$50. Untuk itu, kebijakan nyata untuk meningkatkan investasi migas perlu segera diambil. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo,dibandingkan meratapi kondisi yang ada, Indonesia harus dapat memetik manfaat dari rendahnya harga minyak mentah di pasar global.


Sumber: http://news.detik.com/

Kamis, 26 Mei 2016

Harga Minyak Dekati US$ 50/Barel, Wall Street 'Hijau'

Harga Minyak Dekati US$ 50/Barel, Wall Street Hijau
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Harga minyak naik mendekati US$ 50/barel pada perdagangan Rabu, karena turunnya stok minyak di Amerika Serikat. Kondisi ini membuat saham energi naik, dan bursa saham Wall Street ditutup positif.

Harga minyak jenis Brent naik 60 sen atau 1,3% ke US$ 49,21/barel. Sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,9% ke US$ 49,02/barel.

Selain harga minyak, kenaikan Wall Street juga akibat adanya prospek kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) pada Juni 2016.

Dilansir dari Reuters, Kamis (26/5/2016), sebanyak 38% dari para pelaku pasar saham yakin kenaikan suku bunga acuan akan terjadi di Juni.

Pada perdagangan Rabu, indeks Dow JOnes naik 0,82% menjadi 17.851,51. Indeks S&P 500 naik 0,7% ke 2.090,54. Sementara indeks Nasdaq naik 0,7% menjadi 4.894,89.

Ada 6,9 miliar lembar saham yang ditransaksikan. Di bawah rata-rata transaksi harian, sebanyak 7,3 miliar lembar saham dalam 20 hari terakhir.


Sumber: http://finance.detik.com/

Selasa, 17 Mei 2016

Harga Minyak Naik Tinggi

Harga Minyak Naik Tinggi
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Harga minyak menyentuh tingkat tertingginya dalam 6 bulan, pada perdagangan Senin. Didorong oleh pasokan yang terganggu, dan prediksi dari Goldman Sachs yang mengatakan, pasar minyak akan positif untuk ke depan.

Dilansir dari Reuters, Selasa (17/5/2016), harga kontrak berjangka minyak jenis Brent naik US$ 1,14 per barel (2,4%) ke US$ 48,97 per barel. Sempat menyentuh harga tertingginya di US$ 49,47 per barel, atau tertinggi sejak November 2015.

Untuk harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 1,51 per barel (3,3%) menjadi US$ 47,72 per barel, dan sempat menyentuh tingkat tertinggi di US$ 47,85 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi dalam 2 pekan terakhir, karena kombinasi gangguan pasokan di Nigeria, Venezuela, dan juga penurunan produksi di Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Belum lagi ada prediksi soal membaiknya harga minyak dari Goldman Sachs.

Namun belum bisa diprediksi berapa besaran harga minyak yang akan kembali dicapai.


Sumber: http://finance.detik.com/

Kamis, 12 Mei 2016

Harga Minyak Dunia Turun, Peluang Maskapai RI Raup Untung

Harga Minyak Dunia Turun, Peluang Maskapai RI Raup Untung
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Harga minyak dunia terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini dinilai bisa menjadi peluang tersendiri bagi pelaku industri penerbangan untuk memperkuat permodalan perusahaan.

"Saat ini harga minyak dunia tengah rendah-rendahnya. Kalau pun ada peluang kenaikan dalam dua tahun ke depan paling hanya menjadi US$ 60/barel. Bandingkan dengan dulu yang pernah tembus US$ 120/barel. Artinya kalau pun naik, nggak sampai 50% dari harga normalnya dulu," kata Mantan Direktur Utama Garuda  Indonesia, Emirsyah Sattar Pada Acara Penganugerahan Apresiasi Tokoh Transformasi BUMN 2016 di Sampoerna Strategic, Jakarta, Kamis (12/5/2016).

Kondisi ini, menurut Emir, bisa dimanfaatkan maskapai penerbangan termasuk di Indonesia untuk mendulang untung yang besar. Keuntungan itu bisa dipupuk sebagai modal perusahaan.

Emir menjelaskan, peluang meraup keuntungan yang besar ini bisa didapat dari penghematan yang diraih dengan adanya penurunan harga minyak. Menurutnya, biaya bahan bakar berkontribusi hampir separuh dari total biaya operasi sebuah maskapai penerbangan.

"Komponen utama kan avtur, fuel (bahan bakar) hampir 45% dari total biaya operasi kita. Sedangkan hargafuel lagi turun. Ini kesempatan yang baik airlines bisa memupuk keuntungan supaya jadi modal internal. Ini bisa dilaksanakan," ujarnya.

Modal yang besar ini bisa dimanfaatkan untuk menambah armada, atau ekspansi lainnya sehingga maskapai penerbangan bisa memiliki skala usaha yang lebih besar.

"Sehingga penerbangan ini bisa lebih produktif dan profit," kata dia.

Bila perusahaan penerbangan bisa memanfaatkan peluang ini, maka di masa depan mereka bisa mendulang keuntungan yang lebih besar ini. Mengingat, permintaan perjalanan udara dengan pesawat terbang kian meningkat meskipun saat ini dunia terus dibayangi isu perlambatan ekonomi.

"Demand di tengah ekonomi melambat katanya pertumbuhan penumpang (pesawat terbang) stagnan juga. Tapi kenyataannya nggak begitu. Penerbangan masih meningkat, orang masih bepergian, airlines asing tetap tambah rute. Indonesia juga masih bagus, jumlah penumpang masih naik. Bahkan catatannya orang Indonesia yang terbang ke Jepang misalnya, masih mengalami peningkatan 30%. Artinya bisnis lagi bagus. Kalau nggak dimanfaatkan, peluang di masa depan bisa lewat," pungkas dia.


Sumber: http://finance.detik.com/

Harga Minyak Lompat 4%

Harga Minyak Lompat 4%
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Harga minyak dunia melonjak 4% lebih pada perdagangan Rabu di pasar New York. Dipicu oleh menurunnya stok minyak Amerika Serikat (AS), dan turunnya produksi dari Kanada dan Nigeria.

Energy Information Administration (EIA) di AS menyatakan, stok minyak pemerintah negara ini turun 3,4 juta barel pekan lalu. Sementara para analis memprediksi ada kenaikan 714.000 barel.

"Laporan dari EIA membuat harga langsung naik," kata Dominick Chirichella, senior partner dari Energy Management Institute di New York, seperti dilansir dari Reuters, Rabu (12/5/2016).

Harga kontrak berjangka minyak jenis Brent naik US$ 2,08 per barel (4,6%) menjadi US$ 47,6 per barel. Sementara harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 1,57 per barel (3,5%) ke US$ 46,23 per barel.

Dalam laporan terpisah, EIA memprediksi harga minyak Brent bakal mencapai US$ 76 per barel tahun depan, karena permintaan yang meningkat.

Kenaikan harga minyak mentah dalam beberapa waktu terakhir, telah membuat harga turunannya seperti bensin naik hingga 6% di AS.

Harga minyak sebelumnya telah naik, setelah Shell mengumumkan adanya penutupan sejumlah pipa minyak di Nigeria karena adanya serangan ke 2 kilang minyak. Kemudian produksi minyak di Kanada turun 1 juta barel per hari, karena salah satu kota penghasil minyaknya mengalami kebakaran hutan.


Sumber: http://finance.detik.com/

Rabu, 11 Mei 2016

Harga Minyak dan Saham Amazon Bikin Wall Street Naik 1% Lebih

Harga Minyak dan Saham Amazon Bikin Wall Street Naik 1% Lebih
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) naik hingga 1% lebih pada perdagangan Selasa. Ini dibantu oleh kenaikan harga minyak dan saham Amazon.com yang cukup tinggi.

Indeks saham S&P 500 naik ke tingkat tertingginya dalam 2 bulan terakhir, karena kenaikan saham Amazon.com yang mencapai 3,43%.

Kenaikan 3,43% tersebut, membuat saham Amazon.com menyentuh tingkat tertingginya di US$ 703,07. Sementara harga minyak naik 4% karena kekhawatiran gangguan pasokan di Kanada, akibat kebakaran hutan di provinsi penghasil minyaknya.

Pasar saham internasional juga bergerak positif, karena solidnya laporan keuangan perusahaan-perusahaan di Eropa, dan adanya progres penyelesaian utang Yunani.

"Hari yang hebat. Orang-orang merasa percaya diri," kata Analis, Jake Dollarhide, dilansir dari Reuters, Rabu (11/5/2016).

Pada perdagangan Selasa, indeks Dow Jones naik 1,26% ke 17.928,35. Indeks S&P 500 naik 1,25% ke 2.084,39. Indeks Nasdaq naik 1,26% ke 4.809,88.

Ada 6,6 miliar lembar saham yang ditransaksikan. Di bawah rata-rata transaksi harian dalam 20 hari terakhir, yakni 7,4 miliar lembar saham.


Sumber: http://www.detik.com/

Rabu, 04 Mei 2016

8 Blok Migas di RI Tak Laku Dilelang Akibat Harga Minyak Rendah

8 Blok Migas di RI Tak Laku Dilelang Akibat Harga Minyak Rendah
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Pada 10 September 2015, pemerintah menawarkan 2 wilayah kerja (blok) baru migas melalui lelang Penawaran Langsung, yaitu Blok West Berau (Offshore Papua Barat) dan Blok Southwest Bengara (daratan Kalimantan Timur).

Untuk Lelang Penawaran Langsung, Blok Southwest Bengara ditetapkan dengan bagi hasil 70:30 (minyak) dan 65:35 (gas), persyaratannya berupa survei seismik 2D dan bonus tandatangan minimal US$ 1 juta.

Sementara itu untuk Blok West Berau yang berdasarkan kajian sebagai area high risk-mid potential diberikan bagi hasil 65:35 (minyak) dan 60:40 (gas) dengan persyaratan komitmen pasti berupa survei seismik 3D dan 1 sumur eksplorasi dan bonus US$ 1 juta.

Tetapi sampai dengan batas akhir pemasukan lelang penawaran langsung pada 26 Oktober 2015, tidak ada peserta lelang pada Blok West Berau dan Southwest Bengara, meskipun ada peminat yang mengakses data dan Bid Document.

"Untuk kedua wilayah kerja yang ditawarkan ini, berdasarkan respon dari pelaku pasar kepada pemerintah, secara teknikal daerah tersebut masih menarik, namun dengan kondisi pasar saat ini dan salah satunya yaitu faktor terms & conditions yang diberikan, maka proyek ini menjadi kurang ekonomis sehingga belum menarik minat mereka," tutur Wiratmaja dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (4/5/2016).

Selain itu, ada 6 blok baru migas ditawarkan oleh ESDM melalui lelang reguler, yaitu Blok Rupat Labuhan (Offshore Riau & Sumatera Utara), Nibung (Onshore Riau & Jambi), West Asri (Offshore Lampung), Oti (Offshore Kalimantan Timur), North Adang (Offshore Kalimantan Timur), dan Kasuri II (Onshore Papua).

"Untuk lelang regular sampai dengan batas akhir pemasukan dokumen partisipasi pada tanggal 14 Januari 2016, terdapat 2 perusahaan yang memasukkan dokumen partisipasi yaitu Azipac Limited untuk Blok Oti dan PT Agra Energi Indonesia untuk Blok Kasuri II," ujarnya.

Blok Oti ditetapkan dengan bagi hasil 65:35 (minyak) dan 60:40 (gas), persyaratannya berupa G&G dan 1 sumur eksplorasi dan bonus tandatangan minimal US$ 1 juta.

Sementara itu untuk Blok Kasuri II diberikan bagi hasil 65:35 (minyak) dan 60:40 (gas) dengan persyaratan komitmen pasti berupa G&G, akuisisi dan processing seismik 2D 1000 Km dan 1 sumur eksplorasi dan bonus US$ 5 juta.

Untuk Blok Oti dan Kasuri II, Peserta Lelang menyampaikan penawaran di bawah minimum yang dipersyaratkan, sehingga untuk kedua blok ini tidak ada pemenang. Alhasil, 6 blok migas yang ditawarkan melalui lelang reguler juga belum laku sampai sekarang.

"Dengan kondisi harga minyak yang rendah, terms and conditions yang ditawarkan oleh pemerintah belum memenuhi keekonomian para calon peserta lelang tahun 2015, sehingga ada beberapa yang mengundurkan diri," Wiratmaja mengungkapkan.

Selanjutnya, sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 35/2008 tentang Tata Cara Penetapan dan Penawaran Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi, maka Blok Southwest Bengara, West Berau, Rupat Labuhan, Nibung, West Asri, Oti, North Adang, dan Kasuri II menjadi status Available (terbuka).

Pada beberapa wilayah kerja tersebut, setelah dilakukan evaluasi kembali terhadap minat pasar, pemerintah menawarkan kembali melalui lelang reguler tahun 2016 dengan model 'open bid split', yaitu investor dapat menawar split bagi hasil sehingga sesuai dengan keekonomian mereka.



Sumber: http://finance.detik.com/

Selasa, 03 Mei 2016

Harga Minyak Anjlok 3%

Harga Minyak Anjlok 3%

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -Setelah sempat naik ke tingkat tertingginya, harga minyak pada Senin awal pekan ini jatuh 3%. Ini akibat naiknya produksi minyak dari negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

Aksi ambil untung atau profit taking juga jadi pemicu jatuhnya harga minyak.

Produksi minyak OPEC di April naik menjadi 32,64 juta barel per hari. Mendekati rekor tertingginya dalam sejarah. Ekspor minyak Irak dari lapangan di wilayah selatan juga meningkat,

Dilansir dari Reuters, Selasa (3/5/2016), di pasar New York semalam, harga kontrak berjangka minyak jenis Brent turun US$ 1,54/barel (3,3%) menjadi US$ 45,83/barel dan sempat menyentuh tingkat terendah di US$ 45,72/barel.

Harga kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun US$ 1,14/barel (2,5%) menjadi US$ 44,78/barel, dan sempat menyentuh tingkat terendah di US$ 45,72/barel.

Selanjutnya, data dari Energy Information Administration (EIA) pada Rabu ini soal produksi dan permintaan minyak, akan menentukan pergerakan harga.

Para spekulator memperkirakan, harga minyak Brent akan kembali menyentuh tingkat tertinggi.


Sumber: http://finance.detik.com/

Jumat, 18 Maret 2016

Naik 5%, Harga Minyak Sentuh Titik Tertinggi

Naik 5%, Harga Minyak Sentuh Titik Tertinggi
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Harga minyak dunia menyentuh tingkat tertingginya di 2016 pada perdagangan Kamis waktu New York, Amerika Serikat (AS). Naik 5%, harga minyak kembali menembus US$ 40/barel. 

Kondisi ini didorong oleh optimisme pelaku pasar, bahwa produsen minyak utama dunia akan menahan laju produksinya ke tingkat yang sama di Januari 2016. Kesepakatan penahanan produksi ini diprediksi terjadi bulan depan.

Pelemahan dolar AS setelah Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga acuannya, juga ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Pemimpin OPEC, Arab Saudi beserta produsen minyak non OPEC, Rusia, dijadwalkan akan bertemu pada 17 April 2016 di Doha, Qatar, untuk membicarakan penahanan laju produksi mereka.

"Ada kemungkinan kontrol suplai akan diputuskan dalam pertemuan tersebut. Mengasumsikan itu terjadi, pelaku pasar melakukan antisipasi," kata Analis, Pete Donovan, dilansir dari Reuters, Jumat (18/3/2016).

Pada Kamis, harga kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) produksi AS naik US$ 1,74/barel (4,5%) ke US$ 40,2/barel. Sebelumnya sempat menyentuh tingkat tertinggi di tahun ini, yaitu US$ 40,26/barel.

Minyak jenis Brent, harganya naik US$ 1,21/barel menjadi US$ 41,54/barel, dan sempat menyentuh tingkat tertingginya di tahun ini, yaitu US$ 41,6/barel.


Sumber: http://finance.detik.com/

Rabu, 16 Maret 2016

Harga Minyak Turun 2%

Harga Minyak Turun 2%
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Pada perdagangan Selasa waktu New York, harga minyak dunia turun 2%. Karena adanya tekanan teknikal, dan juga kekhawatiran peningkatan stok minyak di Amerika Serikat (AS).

Selain itu, investor juga masih menunggu hasil rapat dari Federal reserve (The Fed) yang akan berakhir Rabu waktu setempat.

Dilansir dari Reuters, Rabu (16/3/2016), minyak jenis Brent turun 79 sen (2%) ke US$ 38,74/barel. Sementara minyak produksi AS turun 84 sen (2,3%0 ke US$ 36,34/barel.

Dalam 6 pekan terakhir, harga minyak sempat naik 50%, setelah produsen minyak besar dunia berencana menahan produksi minyaknya ke tingkat yang sama dengan produksi di Januari 2016 lalu.

Namun, rencana yang dibuat OPEC dan Rusia ini ditolak oleh Iran, selaku produsen minyak nomor 4 terbesar dunia. Sehingga pelaku pasar meragukan rencana itu akan berjalan.


Sumber: http://finance.detik.com/

Kamis, 10 Maret 2016

Ikut Kenaikan Harga Minyak, Wall Street Positif

Ikut Kenaikan Harga Minyak, Wall Street Positif
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup positif pada perdagangan Rabu. Pergerakan bursa Wall Street mengikuti gerak harga minyak dan saham sektor energi yang naik.

Di 2016 ini, pergerakan bursa saham di AS sangat berkaitan erat dengan gerak harga minyak. Rabu kemarin, pergerakan bursa saham juga mengikut kenaikan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) yang naik hampir 5%. Ini membuat saham sektor energi juga ikut naik.

"Ini bukan tentang harga minyak menjadi barometer ekonomi dunia. Namun minyak mempengaruhi psikologi," kata Analis, Art Hogan, dilansir dari Reuters, Kamis (10/3/2016).

Pada perdagangan Rabu, indeks Dow Jones naik 36,26 poin (0,21%) ke 17.000,36. Indeks S&P 500 naik 10 poin (0,51%) ke 1.989,26. Sementara indeks Nasdaq naik 25,55 poin (0,55%) k 4.674,38.

Ada sekitar 7,5 miliar lembar saham yang ditransaksikan. Di bawah rata-rata transaksi harian, sebanyak 8,67 miliar lembar saham dalam 20 hari terakhir.


Sumber: http://finance.detik.com/

Rabu, 24 Februari 2016

Harga Minyak Turun, Wall Street Anjlok 1% Lebih

Harga Minyak Turun, Wall Street Anjlok 1% Lebih
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) berakhir turun 1% lebih pada perdagangan Selasa. Pergerakan ini didorong oleh turunnya harga minyak dunia.

Harga minyak produksi AS turun lebih dari 4% pada hari yang sama.

Memang pergerakan pasar saham sangat erat kaitannya dengan pergerakan harga minyak. Situasi harga minyak yang sejak pertengahan 2014 lalu, membuat bank dengan aset terbesar di AS, yaitu JP Morgan, meningkatkan pencadangannya hingga US$ 500 juta, karena dikhawatirkan akan ada kredit macet di sektor energi.

"Pelaku pasar sangat khawatir, bahwa perlambatan perekonomian global mungkin akan lebih signifikan terjadi, dan ini akan menyebabkan permintaan minyak berkurang, dan juga harga komoditas secara umum," kata Analis, Tracie McMillion, dilansir dari Reuters, Rabu (24/2/2016).

Pada perdagangan Selasa, indeks Dow Jones turun 188,88 poin (1,14%) ke 16.431,78. Indeks S&P 500 turun 24,23 poin (1,25%) ke 1.921,27. Indeks Nasdaq turun 67,02 poin (1,47%) ke 4.503,58.

Ada sekitar 7,1 miliar lembar saham yang ditransaksikan. Ini di bawah rata-rata harian, sebanyak 9 miliar lembar saham dalam 20 hari terakhir.


Sumber: http://finance.detik.com/

Selasa, 23 Februari 2016

Harga Minyak 'Loncat' 6%

Harga Minyak Loncat 6%
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Pada perdagangan semalam di pasar New York, Amerika Serikat (AS), harga minyak dunia naik 6%. Akibat spekulasi turunnya produksi shale oil di AS. Di pasar Asia, harga minyak juga naik di awal pekan ini.

Angka operasi alat pengeboran minyak di AS turun menjadi yang terendah sejak Desember 2009 llau.

Selain itu, harga minyak juga naik setelah International Energy Agency mengumumkan, produksi shale oil di AS akan turun 600.000 barel per hari tahun ini, dan 200.000 barel per hari di 2017.

Dilansir dari Reuters, Selasa (23/2/2016), harga kontrak berjangka minyak produksi AS naik US$ 1,84/barel atau 6%, menjadi US$ 31,48/barel. Sementara minyak jenis Brent harga kontrak berjangkanya naik US$ 1,68/barel atau 5%, ke US$ 34,69/barel.

Kenaikan harga minyak ini turut mengerek kenaikan bursa saham, seperti yang terjadi pada bursa Wall Street semalam.

Harga minyak pulih sejak pekan lalu, setelah Arab Saudi, Qatar, Venezuela, dan Rusia berencana menahan produksi minyak ke tingkat yang sama dengan produksi Januari 2016.


Sumber: http://finance.detik.com/

Rabu, 17 Februari 2016

Kesepakatan Arab Cs Tak Kuat, Harga Minyak Jatuh Hampir 4%

Kesepakatan Arab Cs Tak Kuat, Harga Minyak Jatuh Hampir 4%
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Pergerakan naik-turun harga minyak sangat tinggi. Setelah sempat naik hingga 6%, kembali turun hampir 4%. Semalam di pasar New York, Amerika Serikat (AS), harga minyak turun 4%.

Kesepakatan Menteri Perminyakan 4 negara produsen minyak raksasa dunia, yaitu Arab Saudi, Rusia, Qatar, dan Venezuela, dinilai kurang kuat. Keempat menteri ini berencana menahan produksi di tingkat yang sama seperti Januari 2016. Sementara pelaku pasar mengharapkan adanya pemangkasan produksi sehingga harga bisa naik lagi.

Minyak sempat naik 6% kemarin menyambut pertemuan 4 menteri ini, namun setelahnya harga minyak kembali turun. Apalagi ini merupakan pertama kalinya, negara OPEC dan non OPEC diwakili Rusia, membuat kesepakatan dalam 15 tahun terakhir.

Mohammad bin Saleh al-Sada, Menteri Energi Watar mengatakan, langkah ini dilakukan untuk menstabilkan harga minyak, di tengah pasokan yang melimpah. Namun ternyata kesepakatan ini belum cukup mengangkat harga minyak.

Dilansir dari Reuters, Rabu (17/2/29016), semalam harga minyak Brent turun US$ 1,21/barel ke US$ 32,18/barel. Setelah sebelumnya sempat naik hingga US$ 35,55/barel. Sementara harga minyak produksi AS turun 40 sen ke US$ 29,04/barel, setelah sebelumnya sempat naik ke US$ 31,53/barel.

Harga minyak telah jatuh 70% dalam 20 bulan terakhir, karena produksi dunia yang melimpah.

Untuk pagi ini di pasar Asia, harga kontrak berjangka minyak produksi AS naik tupis 24 sen ke US$ 29,28/barel.

Ben Le Brun, seorang analis pasar minyak mengatakan, kenaikan harga minyak kemarin karena rumor dari pertemuan 4 menteri negara produsen minyak. Namun setelah hasilnya tidak memuaskan, aksi jual kembali terjadi.

"Beli karena rumor, jual karena fakta yang ada. Pelaku pasar mengaharapkan adanya pemangkasan produksi minyak," kata Le Brun.


Sumber: http://finance.detik.com/

Rabu, 10 Februari 2016

Harga Minyak Jeblok Lagi, Turun Nyaris 8%

Harga Minyak Jeblok Lagi, Turun Nyaris 8%
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Dalam 4 hari perdagangan berturut-turut, harga minyak internasional jatuh. Kejatuhan ini salah satunya diakibatkan oleh prediksi pemerintah Amerika Serikat (AS), bahwa permintaan minyak akan terus menurun.

"Kemungkinan banyak produser yang menjual minyaknya di harga berapa pun meski rendah. Sulit bagi semua orang untuk berpikir positif di pasar, dengan data yang ada saat ini," kata Analis, Scott Shelton dilansir dari Reuters, Rabu (10/2/2016).

Pada perdagangan Selasa di pasar New York, harga minyak jenis Brent turun US$ 2,56/barel atau 7,8% ke US$ 30,32/barel. Ini merupakan penurunan harian terbesar Brent sejak 1 September 2015 lalu.

Lalu harga minyak produksi AS turun US$ 1,75/barel (5,9%) ke US$ 27,94.barel. Ini merupakan yang terendah sejak Mei 2003. Harga bensin di AS turun 6%.

Harga minyak makin tertekan, setelah Energy Information Administration (EIA) di AS memprediksi permintaan minyak akan rendah dalam 2 tahun ke depan.


Sumber: http://finance.detik.com/

Rabu, 03 Februari 2016

Harga Minyak Jeblok 5% Lebih

Harga Minyak Jeblok 5% Lebih
Jakartam, Rifan Financindo Berjangka - Selasa kemarin harga minyak kembali jatuh untuk 2 hari berturut-turut. Minyak West Texas Intermediate (WTI) produksi Amerika Serikat (AS) anjlok hingga 5,5%.

Kondisi ini terjadi di tengah makin melimpahnya pasokan minyak di pasar internasional.

Sebelumnya ada harapan kenaikan harga minyak, setelah Rusia berencana berbicara dengan Arab Saudi untuk memangkas produksi minyak. Namun ternyata gagal membuahkan hasil.

Goldman Sachs pernah mengatakan, OPEC yang dikepalai oleh Arab Saudi, tidak akan mau bekerjasama dengan Rusia untuk memangkas produksi minyaknya.

"Selama mereka (produsen minyak) masih mengecewakan, pelaku pasar akan tetap memperdagangkan minyak di harga rendah, dan memaksa mereka melakukan sesuatu," kata Analis, John Kilduff, dilansir dari Reuters, Rabu (3/2/2016).

Harga minyak jenis Brent ditutup turun US$ 1,52 atau 4,4%, ke US$ 32,72/barel. MInyak WTI, harganya turun US$ 1,74 atau 5,5% ke US$ 29,88/barel.

Harga kontrak berjangka bensin di pasar AS juga turun lebih dari 9%.


Sumber: http://finance.detik.com/

Kamis, 28 Januari 2016

Harga Minyak Tiba-tiba 'Lompat' 4%

Harga Minyak Tiba-tiba Lompat 4%
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Harga kontrak berjangka minyak naik pada perdagangan Rabu di pasar New York. Setelah Rusia mengindikasikan adanya kemungkinan kerja sama dengan OPEC, untuk bersama mengurangi pasokan minyak global, dan pada akhirnya mengangkat harga.

Sebagai produsen minyak non OPEC, Rusia sebelumnya memang tidak mau memangkas produksi minyaknya, untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor minyaknya melawan OPEC yang dipimpin Arab Saudi.

"Saya jadi skeptis. Produsen minyak meminta pihak lain memangkas produksinya, tapi tetap mempertahankan produksinya Saya pikir faktor geopolitik di Timur Tengah memiliki peran lebih besar dalam produksi minyak, ketimbang pernyataan dari seorang menteri energi (Rusia)," kata Analis, Andrew Lipow, dilansir dari Reuters, Kamis (28/1/2016).

Meski begitu, kemungkinan adanya kesepakatan antara anggota OPEC dan rivalnya, telah membuat harga minyak naik 4%.

Minyak jenis Brent naik US$ 1,3 (4,1%) ke US$ 33,1/barel, dan sempat menyentuh tingkat tertinggi di US$ 33,49/barel. Minyak CLc1 produksi AS naik 85 sen (2,7%) ke US$ 32,3/barel, dan sempat menyentuh tingkat tertinggi di US$ 32,84/barel.

Harga minyak makin susah ditebak, naik turunnya cukup tajam. Pergerakan harga minyak ikut mempengaruhi bursa saham dunia.


Sumber: http://finance.detik.com/

Senin, 25 Januari 2016

Harga Minyak Menguat, Bursa Saham Naik

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Setelah sempat terkoreksi hingga di bawah US$ 29, WTI Crude Oil mengalami rebound hingga US$ 32.19. Bursa Amerika menguat juga didorong oleh optimisme investor atas rencana bank sentral Eropa dan Jepang untuk mendorong perekonomian.

Pekan ini bursa saham AS menanti rilis beberapa laporan keuangan seperti Mc Donald Corp, Apple, Facebook, dan Boeing.

Indeks Dow Jones ditutup di level 16,093.51 menguat 210.83 poin (+1.33%).

IHSG ditutup di level 4,456.74 menguat 42.62 poin (+0.97%). Hari ini IHSG berpotensi menguat. Sektor energi (CPO, batu bara, gas) berpotensi reboundsetelah harga minyak menguat.

AALI speculative 16550-18000. UNTR 16000-17000. ADRO 480-550. PTBA 4300-5000.

CPIN otw target 3400. JPFA masih uptrend dengan target 800, range baru 640-800, waspadai profit taking jangka pendek.

KLBF 1340-1460. ADHI buy on weakness sekitar 2400, batasi risiko jika di bawah itu. Target 3000-3275.

LPCK di bawah 6700 untuk sementara hindari dulu.

Be greedy when others are fear, and be fear when others are greedy. Warren Buffett.

Semoga #kopipagi 25 Januari 2016 mencerahkan & salam profit. on.fb.me/ellen_may .instagram : @ellenmay_official


Sumber: http://finance.detik.com/

Kamis, 07 Januari 2016

Harga Minyak Turun Tajam ke Bawah US$ 35/Barel

Harga Minyak Turun Tajam ke Bawah US$ 35/Barel
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Harga minyak mentah turun tajam hingga 6% pada perdagangan Rabu, dan terjun ke bawah US$ 35 per barel untuk pertama kalinya sejak 2004. Kondisi ini didorong oleh melimpahnya pasokan minyak dunia.

Di awal tahun ini, minyak jenis Brent sudah turun 8% lebih. Pelemahan ekonomi China, selaku konsumen minyak terbesar kedua dunia, memicu penurunan harga minyak. Karena konsumsi dari China diperkirakan menurun, sementara pasokan melimpah.

Seperti dikutip dari Reuters, Kamis (7/1/2016), harga kontrak berjangka minyak jenis Brent turun US$ 2,19 per barel ke US$ 34,23 per barel. Harga Brent sempat menyentuh US$ 34,13, atau terendah sejak Juli 2004.

Lalu harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) produksi AS, turun US$ 2 per barel ke US$ 33,97 per barel, atau tingkat terendah sejak Februari 2009.

Para pelaku pasar mengkhawatirkan soal kondisi geopolitik dunia, seperti uji coba nuklir oleh Korea Utara. Sementara ketegangan hubungan Arab Saudi dan Iran diperkirakan hanya berpengaruh sedikit kepada arus distribusi minyak dunia.

"Saya pikir yang akan muncul adalah perang harga minyak, Agar produsen tetap menjaga pangsa pasarnya. Harga bisa makin rendah dan bisa menyentuh US$ 32 per barel," kata Analis, Tariq Zahir.


Sumber: http://finance.detik.com/