AXA Tower Kuningan City

COMODITY

Sesuatu benda nyata yang relatif mudah di perdagangkan, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh Investor melalui bursa berjangka

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Jl. Prof. DR. Satrio Kav. 18 Kuningan Setia Budi, Jakarta 12940 Telp : (021)30056300, Fax : (021)30056200

Transaksi anda kami jamin aman dari virus, hacker atau gangguan sejenisnya. Karena trading platfoen kami telah terproteksi sangat baik

Tampilkan postingan dengan label komoditi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komoditi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2016

Daily Market Review overview 07-06-2016

Daily Market Review overview 07-06-2016
 
Index
      Hangseng Hong Kong
  • Bursa saham Hong Kong naik lebih dari 1 persen pada hari Selasa pasca Ketua The Fed AS Janet Yellen dalam pernyataannya memberikan penilaian yang optimis pada prospek ekonomi AS, tetapi hanya memberikan sedikit petunjuk tentang kapan akan meningkatkan suku bunga, sentimen positif tersebut membawa Indeks Hang Seng menguat 1,4 persen ke level 21,328.24 poin,.           

    Shanghai Composite China
  • Saham China berakhir mendatar pada hari Selasa, meskipun penguatan di bursa saham Hong Kong dan pasar Asia lainnya yang didukung dengan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS dalam jangka dekat. Indeks CSI 300 yang memperdagangkan saham “ saham blue-chip turun 0,1 %, ke level 3,177.05, sementara Indeks Shanghai Composite naik 0,1%, ke level 2,936.04 poin.
    Topix/Nikkei 255 Jepang
  • Reli pada saham energi dorong kinerja kinerja Saham Jepang naik yang ditopang dengan kenaikan harga minyak yang lebih   tinggi diiringi pelemahan   yen pasca Ketua Federal Reserve Janet Yellen yang mengatakan ekonomi ASakan terus meningkat dan kenaikan suku bunga akan dilakukan secara     bertahap. Indeks Topix naik 0,6 % ke level 1,340.77 pada penutupan         perdagangan di Tokyo. Indeks acuan sebelumnya sempat terkoreksi sebanyak   0,2% karena yen diperdagangkan lebih tinggi.

    S&P 500 US
  • Indeks S&P 500 cukup memangkas penguatannya di satu jam terakhir perdagangan, pasca Indeks acuan menguat 0,5% melebihi level tertingginya sepanjang masanya. Indeks S&P 500 naik 0,1% ke level 2,112.22 pukul 16:00 sore di New York, pasca naik sebanyak 0,5%. Penguatan ini merupakan penutupan tertinggi sejak Juli tahun lalu, sedangkan volume perdagangan di     bursa AS sebesar 13% di bawah rata-rata dalam tiga bulan terakhir. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) meningkat 20,55 poin, atau 0,1%, ke level17,940.88 hari ini, pasca sempat melampaui level 18.000 untuk pertama kalinya sejak April lalu. Penguatan ini dukung oleh pernyataan Ketua Federal Reserve Janet Yellen yang mengatakan ekonomi AS akan terus meningkat dan kenaikan suku bunga akan dilakukan secara bertahap.

Commodity
    EMAS
  • Emas mengalami penurunan pertama dalam tiga sesi terakhir menyusul Cina, yang merupakan konsumen emas nomor satu dunia, menahan diri untuk menambahkan bullion untuk cadangan mereka, sehingga memicu kekhawatiran ahwa permintaan emas fisik tengah melemah. Emas berjangka untuk pengiriman Agustus tergelincir kurang dari 0,1 persen untuk menetap di level $1.247 per ons pada pukul 1:41 siang waktu New York di Comex. Bullion naik 2,9 persen selama dua sesi sebelumnya terkait dengan indikasi dari pasar tenaga kerja AS yang melemah, memicu spekulasi bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bulan ini pada waktu dekat

    OIL
  • Harga minyak kembali memperpanjang tren kenaikannya dalam dua sesi beruntun pada Selasa, dengan lanjutan produksi di Nigeria serta tanda-tanda kenaikan permintaan minyak global yang membantu untuk mengangkat harga minyak AS terakhir pada level $50 per barel hingga ke level tertinggi sejak akhir    Juli. Minyak mentah West Texas Intermediate naik 38 sen, atau 0,8%, ke level $50,07 per barel di New York Mercantile Exchange.

Currency

            Dolar Australia menguat dan obligasi tetap melemah pasca bank sentral mempertahankan tingkat suku bunganya pada level 1,75 % hari Selasa. Mata uang Australia menguat 0,4 % ke level 73,93 sen terhadap Dolar Amerika Serikat pada pukul 14:31 sore waktu Sydney. Imbal hasil obligasi tenor 10-tahun naik dua basis poin menjadi 2,17 %.

            Dolar sedikit menguat terhadap yen pada Selasa ini, karena greenback yang mendapat dukungan terkait pidato dari ketua The Fed Ketua Janet Yellen yang dipantau dengan seksama. Dolar AS dolar diperdagangkan pada 107,82 yen, setelah menyentuh 107,89 yen di awal sesi, dibandingkan dengan 107,57 yen akhir Senin kemarin di New York.

            Serangkaian jajak pendapat baru menunjukkan dukungan untuk Inggris bertahan di Uni Eropa, mendorong pound berada di level tertingginya pada hari Selasa. Pound diperdagangkan di level $ 1,4546 pada akhir Selasa di New York, dibandingkan dengan level $ 1,4455 pada akhir Senin.


Sumber: www.rfbnews.com

Jumat, 11 September 2015

Harga Komoditas Membaik, Rupiah Dibuka Menguat di Rp14.300

cadangan-devisa-ri-kian-tergerus-sejak-awal-tahun-PPYjl81r0L
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini alami penguatan. Rupiah dibuka menguat di Rp14.300-an.
Melansir Bloomberg Dollar Index, Jakarta, Jumat (11/9/2015), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward menguat 27 poin atau 0,19 persen ke Rp14.305 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp14.332 per USD. Pada pembukaannya Rupiah berada di level Rp14.298 per USD.
Dalam pergerakan pagi ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.290-Rp14.310 per USD. Pada pergerakan 52 mingguannya, Rupiah di kisaran Rp11.805-Rp14.364 per USD.
Analyst Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, harga komoditas yang membaik dan dolar index yang turun masih akan memberikan kekuatan tambahan mata uang Asia, termasuk rupiah terhadap dolar.
"Walaupun isu negatif domestik bisa memberikan tekanan lebih terhadap rupiah," ujar Rangga dalam risetnya.
Dirinya mengatakan, pasca pengumuman paket kebijakan September I, optimisme di pasar keuangan sama sekali tidak terlihat. Ketiadaan rincian menghilangkan kredibilitas kebijakan sehingga menggerus harapan berlebih yang sudah terlanjur naik menjelang pengumuman Presiden kemarin.
Dirinya mengatakan, walaupun dolar sedikit menguat di Asia akibat meningkatnya harapan deflasi (perlambatan ekonomi) China, rupiah mengalami pelemahan yang relatif dalam bersamaan dengan pelemahan IHSG serta SUN.
Menurut Yahoofinance, Rupiah menguat 99 poin atai 0,70 persen ke Rp14.215 per USD. Pergerakan hari ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.211-Rp14.321 per USD.
Sumber: http://economy.okezone.com/

Rabu, 26 Agustus 2015

SUPREMASI KOMODITAS NUSANTARA

Oleh : Tumpal Sihombing
Chief Research Officer – R&D
PT Rifan Financindo Berjangka
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Indonesia adalah negara berperekonomian agraris yang sangat kaya akan komoditas. Komoditas hasil bumi Nusantara telah menjadi andalan perdagangan global sejak dahulu kala. Bahkan ribuan tahun sebelum Masehi, komoditas pohon kamper yang pernah hanya ada dan tumbuh di pulau Sumatera di bagian utara telah ramai diperdagangkan (globally traded) terutama ke Mesir. Kala itu ekstrak dari pohon kamper telah menjadi salah satu raw material utama pembentuk ramuan balsem pengawet mumi jasad Firaun. Artinya, Nusantara pernah jaya digdaya dalam ranah perdagangan komoditas global. Kini potensi itu pun masih ada dan relatif sangat besar.
Apa relevansi komoditas dengan perekonomian? Secara prinsip, tiada perekonomian zonder komoditas. Sebelum ada uang di planet ini, semua transaksi berbasis barter, komoditas ditukar komoditas lainnya. Dalam ekonomi positif, ini relevan dengan opportunity cost. Pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih akseleratif jika industri komoditas nusantara dikelola secara lebih proper, efisien dan efektif. Namun sayangnya itu belum kejadian. Konsekuensinya, ada nilai peluang besar yang tak jadi diperoleh negara karena agenda pembangunan ekonomi terkini belum menaruh implementasi pengembangan industri komoditas di posisi urjen/utama dalam skala prioritas.
Kini pemerintah sangat fokus dalam pengembangan ranah infrastruktur di sisi distribusi. Hal itu baik namun baru mencakup sepertiga saja dari total elemen dalam sistem perekonomian (produksi, distribusi, konsumsi). Memang industri komoditas nusantara membutuhkan pengembangan baik di fasa produksi maupun fasa distribusi, dalam hal ini ranah infrastruktur. Namun dinamika pasar fisik komoditas Nusantara sebenarnya lebih bisa terpicu dengan adanya pengembangan nyata di fasa produksi (supply-side) dan konsumsi(demand-side), sebagai wadah pembentukan harga pasar komoditas. Sebagai ilustrasi, kopi adalah salah satu komoditas dimana Indonesia adalah produsen ke-3 terbesar dunia, terbesar untuk robusta. Sayangnya, PDM komoditas kopi belum sepenuhnya mengacu pada referensi harga Nusantara. Memang Lampung kini menjadi referensi harga spot robusta, sementara futures nya masih mengacu ke London. Untuk kopi arabica, Medan menjadi acuan spot, New York untuk futures nya.

Sumber: http://www.neraca.co.id/

Kamis, 06 Agustus 2015

Penurunan Harga Komoditas Turut Tekan Rupiah

2116565shutterstock-184572386780x390
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Nilai tukar rupiah kembali diuji kekuatannya pada perdagangan Kamis (6/8/2015/2015). Penurunan harga komoditas di pasar global turut memengaruhi melorotnya mata uang garuda mengingat Indonesia bergantung pada ekspor aneka komoditas.
Dollar AS menguat terhadap seluruh mata uang di Asia. Rupiah kemarin melemah lagi hingga Rp 13.500 per dollar AS walaupun angka PDB triwulan II-2015 yang turun tipis direspon cukup baik oleh pasar keuangan domestik.
Menurut Riset Samuel Sekuritas Indonesia, selain harapan kenaikan suku bunga the Fed, penurunan harga komoditas yang masih terjadi diperkirakan menjadi penyebab utama pelemahan rupiah.
Rupiah diperkirakan masih memiliki ruang untuk melemah walaupun hari ini penguatan dollar AS yang berkurang berpeluang mengurangi tekanan depresiasi.
Performa sektor jasa AS yang baik ternyata tidak diikuti oleh membaiknya penyerapan tenaga kerja di bulan Juli sehingga indeks dollar AS yang sempat naik kembali turun ke level pembukaan. Sentimen penguatan dollar AS akan kembali diuji oleh rilis angka jobless claims AS nanti malam yang diperkirakan naik. Penguatan dollar AS berpeluang berkurang kekuatannya di pasar Asia hari ini.
Rupiah pagi ini di pasar spot bergerak di zona merah. Data Bloomberg pukul 09.00 WIB menunjukkan, mata yang Garuda turun ke posisi Rp 13.528 per dollar AS, dibandingkan penutupan kemarin pada 13.515.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/

Rabu, 29 Juli 2015

Harga Komoditas Pulih, Bursa Asia Dibuka Menguat

yen melemah
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Pasar saham Asia mengawali sesi perdagangan Rabu 29 Juli 2015, dengan pergerakan menguat, menghentikan kerugian pada perdagangan sebelumnya.
Seperti diberitakan CNBC, penguatan saham didorong oleh menguatnya bursa Wall Street pada penutupan perdagangan semalam dan stabilitas harga komoditas.
Investor fokus pada pertemuan kebijakan Federal Reserve yang diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut terkait kenaikan suku bunga AS.
Indeks Nikkei di bursa Tokyo, pagi ini menguat 0,47 persen. Penguatan indeks acuan pasar saham Jepang ini menyusul penjualan ritel yang lebih dari perkiraan sebelumnya.
Penjualan ritel pada Juni naik 0,9 persen, melampaui ekspektasi kenaikan para analis sebelumnya, yakni naik 0,5 persen.
Saham Nissan menguat 1,1 persen, sedangkan saham Nintendo naik 0,3 persen.
Sementara itu, indeks S&P ASX 200 di bursa Sydney, menguat 0,7 persen. Indeks patokan pasar saham Australia ini menyentuh level tertinggi dalam sepekan, karena pulihnya harga komoditas.
Saham BHP Billiton naik hampir dua persen, sedangkan saham Rio Tinto dan Fortescue Metals masing-masing menguat 0,4 persen dan 3 persen.
Ada pun indeks Kospi di bursa Seoul, Korea Selatan, bergerak naik 0,6 persen.
Saham Lotte Shopping melonjak tujuh persen. Sedangkan saham produsen obat, Hanmi Pharmacheutical menguat 9,9 persen. (asp)

Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/

Rabu, 29 April 2015

Harga Komoditas Anjlok, Ekonomi RI Maksimal 5,4%

2014410Pertumbuhan-ekonomi780x390
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Banyak yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tidak akan mencapai asumsi sesuai APBN-Perubahan yang dipatok 5,7 persen. Bahkan, tidak sedikit berbagai pihak memproyeksi pertumbuhan ekonomi di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan dibawah 5 persen.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS-BI) Mirza Adityaswara enggan berkomentar mengenai hal tersebut. Namun, dirinya mengungkapkan beberapa alasan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini cukup sulit mencapai target sesuai APBN-P 2015
Menurut Mirza, hal ini dikarenakan faktor eksternal yang lemah, sehingga membuat lambannya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lantaran Indonesia ketergantungan terhadap komoditas tambang dan perkebunan cukup besar.
"Sekitar hampir 50 persen dari ekspor nonmigas kita kan dari komoditas. Jadi dengan jatuhnya batu bara, kan harga batu bara dan kelapa sawit jatuh 50 persen, harga karet juga jatuh 70 persen, harga nikel dan semuanya," ucap Mirza di Istana Negara, Jakarta, Rabu (29/4/2015).
Mirza menambahkan, dengan melemahnya harga komoditas yang menjadi andalan ekspor non-migas Indonesia membuat pelemahan pertumbuhan ekonomi, terutama di daerah berbasis komoditas.
"Jadi kalau dulunya orang-orang di Sumatera, Kalimantan juga banyak membeli barang di Jawa, sekarang juga turun. Jadi Jawa melambat. Jadi faktor ekternal besar sekali," tegasnya.
Sementara itu, sektor konsumsi rumah tangga yang sebelumnya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi akan terpengaruh dari melemahnya harga komoditas.
"Ya itu jadi pengaruh," paparnya.
Dengan kondisi tersebut, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,4 persen. Angka ini memang lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi Presiden Jokowi.
"BI masih range 5,4-5,8 persen. Tapi memang saat ini dengan melihat pelemahan ekonomi dunia, kita masih melihat di arah 5,4 persen," tukasnya.

Sumber: http://economy.okezone.com/