AXA Tower Kuningan City

COMODITY

Sesuatu benda nyata yang relatif mudah di perdagangkan, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh Investor melalui bursa berjangka

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Jl. Prof. DR. Satrio Kav. 18 Kuningan Setia Budi, Jakarta 12940 Telp : (021)30056300, Fax : (021)30056200

Transaksi anda kami jamin aman dari virus, hacker atau gangguan sejenisnya. Karena trading platfoen kami telah terproteksi sangat baik

Tampilkan postingan dengan label harga minyak mentah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harga minyak mentah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juli 2017

Harga Minyak Naik di Tengah Kecemasan Pasokan | PT Rifan FInancindo

Jakarta, Rifan Financindo -  Harga minyak meningkat pada hari Senin (10/7) waktu Amerika Serikat. Namun, ketidakpastian soal produksi Libya dan Nigeria dan meningkatnya aktivitas pengeboran minyak AS membuat perkiraan suplai di masa depan jadi tak tentu.

Dikutip dari Reuters, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,17 ke angka US$44,4 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent juga meningkat US$0,17 ke angka US$46,88 per barel.

Meski harga minyak menguat, pelaku pasar masih bertanya-tanya dengan prediksi suplai di masa depan. Salah satu indikasinya adalah kegagalan organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) untuk mengurangi persediaan minyak meski kumpulan kartel itu setuju untuk melanjutkan pembatasan produksi hingga Maret 2018 mendatang. 

Untuk itu, rencananya beberapa negara OPEC akan bertemu dengan anggota non-OPEC, Rusia tanggal 24 Juli mendatang di Saint Petersburg demi membicarakan kondisi pasar minyak saat ini. 

Pemerintah Kuwait menyatakan, Nigeria dan Libya juga diundang ke dalam pertemuan tersebut dan produksinya juga bisa dipotong lebih cepat dibanding bulan November mendatang.

Sayang, Menteri Perminyakan Nigeria tidak bisa hadir karena ada janji lain. Sementara itu, Libya mengatakan siap untuk melakukan pertemuan, tapi pemangkasan produksi itu juga harus mempertimbangkan situasi sosial, ekonomi, dan politik di negara Afrika tersebut.


Di sisi lain, data menunjukkan bahwa produksi minyak AS terus bertambah. Perusahaan jasa energi Baker Hughes mengatakan, produsen minyak AS menambah tujuh pengeboran pada pekan lalu ke angka 763 pengeboran.

Akibatnya, beberapa bank dan analis memangkas prediksi harga minyak di masa mendatang. BNP Paribas, contohnya, telah menurunkan ekspektasi harga minyak WTI dari US$57 per barel ke US$49 per barel dan Brent dari US$60 per barel ke angka US$51 per barel.

Tetapi, pada hari Senin, Chief Executive Officer Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan bahwa saat ini dunia tengah menuju kekurangan suplai minyak. 

"Jumlah minyak konvensional yang ditemukan di seluruh dunia selama empat tahun terakhir setengah kali lebih rendah dibanding empat tahun sebelumnya," tuturnya. 




Senin, 06 Juni 2016

Minyak Mentah Naik Seiring Perkiraan Abu Dhabi Harga Tembus $ 60

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Minyak naik seiring Abu Dhabi memperkirakan harga bisa menyentuh $ 60 per barel di tengah berkurangnya pasokan yang melebihi proyeksi.
Kontrak berjangka menguat sebanyak 1,1 % di New York dan 0,9 % di London. Surplus global turun menjadi 1,2 juta ke 1,5 juta barel per hari dan telah dikontrak lebih cepat dari yang diharapkan, kata Ali Majed Al Mansoori, ketua Abu Dhabi Departemen Ekonomi Pembangunan. Pengeboran minyak di AS rebound dari level terendah dalam lebih dari enam tahun terakhir, menurut data dari Baker Hughes Inc.
Harga minyak telah melonjak sekitar 85 % dari level 12-tahun terendah pada awal tahun ini karena gangguan dan penurunan output AS di bawah tekanan dari kebijakan Organisasi Negara Pengekspor Minyak yang mempertahankan produksi mereka. Anggota kelompok tersebut menolak usulan untuk menerapkan output baru pada minggu lalu, dengan Sekretaris Jenderal Abdalla El-Badri mengatakan bahwa sulit untuk mencapai target karena meningkatnya pasokan minyak di Iran dan volume di Libya yang secara signifikan dihentikan.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik sebanyak 54 sen ke level $ 49,16 per barel di New York Mercantile Exchange dan berada di level $ 49,10 pada pukul 12:54 siang waktu Hong Kong. Kontrak turun 55 sen ke level $ 48,62 pada hari Jumat, hentikan penurunan mingguan sebesar 1,4 %. Total volume perdagangan sekitar 41 % di bawah 100-hari rata-rata.
Brent untuk pengiriman Agustus meningkat sebanyak 45 sen ke level $ 50,09 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Harga Brent merosot 40 sen menjadi ditutup pada level $ 49,64 di hari Jumat. Minyak mentah acuan global dengan premi 48 sen dibandingkan WTI untuk bulan Agustus. (knc)


Sumber: http://www.rfbnews.com/

Selasa, 30 Juni 2015

Krisis Yunani, Harga Minyak Mentah di Posisi Terendah

Krisis Yunani, Harga Minyak Mentah di Posisi Terendah
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Setelah tiga minggu berselang, harga minyak mentah internasional turun di posisi terendah, akibat Yunani menutup bank dan mengontrol modal.
Sementara itu, Iran melihat kemungkinan akan memperpanjang negosiasi nuklir dengan negara Barat untuk mengekspor minyaknya ke pasar, karena kelebihan pasokan.
Dolar melonjak terhadap Euro ke level tertinggi awal Juni, di tengah kekhawatiran atas krisis Yunani, sebelum mundur pada sesi perdagangan New York untuk minyak mentah.
Minyak mentah AS ditutup turun US$1,30, atau 2,18 persen, menjadi US$58,33 per barel. Sedangkan minyak mentah Brent, turun US$1,20 menjadi US$62,02 per barel.
"Hari ini, semua masih memantau perkembangan di Yunani. Untuk Iran, masih menjadi pertimbangan hingga satu minggu kedepan. Semuanya adalah risiko dari off hari ini," kata Tariq Zahir, dari Tyche Capital Advisors di Laurel Hollow, New York, seperti dilansir dari CNBC, Selasa 30 Juni 2015.
Pada Senin, Yunani diketahui menutup aktivitas bank dan tidak mengeluarkan uang tunai, akibat gagalnya kesepakatan dengan kreditor, sehingga menjerumuskan negara itu ke dalam krisis. Euro terbukti masih tangguh, meski Yunani tinggal selangkah lagi keluar dari Euro.
Beberapa analis mengatakan, harga minyak mentah bisa melemah jika situasi Yunani belum diselesaikan hingga referendum pada akhir pekan sampai mereka mendapatkan bailout, atau dana talangan. (asp)

Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/

Kamis, 04 Juni 2015

Produksi Meningkat, Harga Minyak Mentah Turun

ilustrasi-SPBU-aji-140822-5
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Harga minyak mentah dunia jatuh setelah laporan mingguan minyak AS menunjukkan kenaikan dalam produksi minyak mentah AS, terhadap ekspektasi bahwa produsen akan mundur kembali.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, turun USD1,62 menjadi USD59,64 per barel dalam perdagangan di New York Mercantile Exchange.
Patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk penyerahan Juli turun USD1,69 menjadi USD63,80 per barel di perdagangan London.
Tanda-tanda bahwa produksi global belum turun jauh meskipun minyak mentah membanjir, telah menekan kedua pasar yakni New York dan London.
Saudi pemimpin kartel OPEC, akan bertemu di Wina pada Jumat 5 Juni 2015, telah mengindikasikan tidak berencana untuk mengurangi produksinya.
Tidak ada tanda-tanda bahwa Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan memangkas kuota produksi pada pertemuan mereka pada Jumat.
Pada pertemuan Oktober tahun lalu, OPEC mempertahankan kuota produksinya sebesar 30 juta barel meskipun harga minyak anjlok. Produksi kartel pada April meningkat 18.000 barel menjadi rata-rata 30,84 juta barel per hari, menurut laporan bulanan OPEC.
Sementara itu, Iran, dikhawatirkan para pedagang, bisa menyuntikkan jutaan barel lagi per hari ke dalam pasar jika negara tersebut segera mencapai kesepakatan dalam program nuklirnya yang akan menyebabkan pencabutan sanksi internasional.
Dan Amerika Serikat masih memproduksi hampir 9,6 juta barel per hari, 1,2 juta di atas tahun lalu, meskipun ada tekanan dari harga rendah terhadap biaya tinggi pengeboran minyak serpih (shale oil).
Menurut laporan Departemen Energi AS, Rabu, pada pekan yang berakhir 29 Mei, produksi minyak mentah AS bertambah 20.000 barel menjadi 9,586 juta barel per hari.
Persediaan minyak mentah AS pekan lalu turun 1,9 juta barel menjadi 477,4 juta barel, 87,9 juta barel lebih dari setahun sebelumnya. Persediaan di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk kontrak AS, kehilangan 980.000 barel menjadi 59,03 juta barel.
Gene McGillian dari Tradition Energy mengatakan kenaikan produksi AS "telah membangkitkan kembali kekhawatiran bahwa landasan fundamental reli ini tidak benar-benar ada. Laporan menunjukkan permintaan bensin juga turun."
"Dengan Arab Saudi mempertahankan tingkat produksi di atas 10 juta barel per hari, tingkat produksi Rusia berjalan 10 juta barel per hari, Irak mendorong produksi mereka di atas empat juta barel per hari dan AS mendekati tingkat produksi tertinggi empat dekade, kelebihan pasokan ini, menempatkan harga di posisi terendah enam tahun, masih belum diperhatikan," kata dia seperti dikutip AFP.

Sumber: http://economy.okezone.com/

Rabu, 03 Juni 2015

Dollar AS Melorot, Minyak Mentah Sentuh Harga Tertinggi Tahun Ini

1450004shutterstock-92815276780x390
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka - Melorotnya mata uang dollar AS terhadap mata uang utama dunia, mengirim harga minyak New York ke tertinggi baru tahun 2015 ini, pada perdagangan Selasa (2/6/2015) waktu setempat (Rabu pagi WIB).
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, naik 1,06 dollar AS ditutup pada 61,26 dollar AS per barrel di New York Mercantile Exchange.
Di perdagangan London, minyak mentah Brent untuk penyerahan Juli naik 61 sen menjadi 65,49 dollar AS per barrel.
Dollar AS melemah lebih dari dua persen terhadap euro, dan 0,5 persen terhadap yen, setelah keluarnya data inflasi Eropa 0,3 persen pada Mei, lebih baik dari yang diperkirakan sehingga mengurangi ketakutan atas deflasi.
"Saya pikir hal terbesar adalah dollar. Ada korelasi pembalikkan sangat kuat dengan harga minyak. Jadi, apa pun dolar bergerak lebih rendah bisa menggerakkan pasar minyak mentah lebih tinggi," kata Kyle Cooper dari IAF Advisors.
Lonjakan harga terjadi meski masih sedikit perubahan dalam situasi kelebihan pasokan minyak mentah global.
Para pejabat dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan mereka akan mempertahankan tingkat produksi saat ini ketika mereka bertemu tentang situasi pasar di Wina, Jumat (5/6/2015).
Dipimpin oleh Arab Saudi, OPEC telah mengimbangi penurunan tajam harga selama tahun lalu dengan peningkatan produksi, dalam apa yang beberapa orang percaya adalah strategi untuk mendorong produsen biaya tinggi, terutama produsen-produsen serpih (shale) yang berbasis di Amerika Serikat, keluar dari pasar.
Ketika ditanya apakah strategi OPEC bekerja, Menteri Perminyakan Saudi Ali al-Naimi mengatakan kepada wartawan di Wina, Senin: "Jawabannya adalah ya ... Permintaan sedang meningkat. Pasokan sedang melambat. Ini adalah fakta. Pasar sedang mengalami stabilisasi."
"Anda dapat melihat bahwa saya tidak tertekan, bahwa saya senang," tambahnya.
Analis mengawasi pertemuan OPEC pada 5 Juni. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda bahwa kartel akan memotong kuota produksinya pada pertemuan ini.
Kartel mempertahankan kuota produksi 30 juta barel per hari pada pertemuan November tahun lalu.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/

Kamis, 21 Mei 2015

Produksi dan Persediaan AS Turun, Harga Minyak Mentah Naik

ilustrasi-SPBU-aji-140822-5Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -  Harga minyak dunia naik pada Rabu (20/5/2015) watu setempat (Kamis pagi WIB), setelah data menunjukkan penurunan dalam persediaan dan produksi minyak Amerika Serikat.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, naik 99 sen menjadi 58,98 dollar AS per barrel di New York Mercantile Exchange.
Patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli, ditutup naik 1,01 dollar AS pada 65,03 dollar AS per barrel di perdagangan London.
Data dari Departemen Energi AS menunjukkan pasokan minyak mentah AS turun 2,4 juta barrel dalam pekan yang berakhir 15 Mei dengan produksi minyak harian jatuh 112.000 barrel per hari menjadi 9,26 juta barel per hari.
"Saya pikir itu sebuah laporan yang cukup bullish pada sejumlah bidang," kata Matt Smith, analis di Schneider Electric.
Minyak mentah berjangka telah turun tajam pada Selasa di tengah kekhawatiran tentang kelebihan pasokan dan kenaikan dlolar. Sebuah greenback yang kuat membuat minyak yang dihargakan dalam dollar lebih mahal, sehingga mengurangi permintaan. Kekhawatiran mereka juga menahan harga minyak mentah dari pementasan reli besar pada Rabu.
Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/