Singapura, Bagi pasien, membayangkan operasi bedah yang berdarah-darah adalah imajinasi yang mengerikan. Bukannya ingin sembuh dari penyakit, pasien malah rela menderita karena takut badannya diobok-obok pisau bedah. Tapi kini, ada teknologi bedah laparoskopi menggunakan robot yang diklaim lebih canggih dan tidak banyak menimbulkan luka.
Bedah laparoskopi merupakan teknik bedah menggunakan teropong kecil yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Dengan teropong ini, dokter dapat mengetahui bagian tubuh mana yang mengalami gangguan atau menemukan sumber penyakit. Karena teropongnya amat kecil, maka luka sayatan yang dibutuhkan juga minim, yaitu sekitar 4 – 10 mm saja.
Dengan teknik ini, pasien bedah yang dulunya perlu waktu setidaknya 2 – 3 minggu untuk dapat sembuh kini sudah boleh pulang ke rumah 3 – 4 jam setelah menjalani operasi. Selain itu, efek samping yang ditimbulkan akibat luka sayatan dan pembedahan juga lebih minim. Karena efektivitas dan efisiensinya, teknik laparoskopi disebut-sebut sebagai teknik bedah yang paling canggih saat ini.
Perkembangan terakhir, teknologi robot sudah mulai digunakan untuk membantu dokter melakukan operasi laparoskopi. Jadi dokter tidak langsung menyentuh pasien, namun digantikan oleh 3 tangan robot yang memiliki fungsi layaknya tangan dokter yang terampil. Kini mulai ada banyak rumah sakit yang menggunakan robot untuk melakukan bedah laparoskopi.
“Dengan bedah robotik, waktu yang digunakan untuk melakukan pembedahan menjadi lebih singkat. Jika pada bedah konvensional dokter bisa memakan waktu sekitar 4 jam, maka operasi robotik hanya memakan waktu sekitar 2 jam. Ketelitiannya juga lebih terjamin,” kata dr Francis Seow-Choen, Medical Director di Fortis Colorectal Hospital di Singapura.
Dalam acara kunjungan media ke Fortis Colorectal Hospital seperti ditulis pada Senin (22/7/2013), dr Francis menjelaskan bahwa dengan lengan robot yang bisa berputar 360 derajat, maka operasi bedah dapat menjangkau daerah-daerah yang sulit dicapai tangan manusia. Dilengkapi kamera canggih, prosedur operasi bisa disaksikan oleh banyak orang, termasuk pasien sendiri dengan anastesi lokal.
Hingga kini, bedah robotik bisa digunakan untuk mengobati hampir semua kasus pembedahan. Hanya saja, karena menggunakan teknologi dan alat yang terhitung mahal, harga yang dikenakan pasien juga menjadi lebih mahal. Wajar saja karena dokter yang mengoperasikan harus memiliki sertifikasi tersendiri, jadi bukan sembarang dokter.
Namun terlepas dari kecanggihannya, tidak semua dokter merekomendasikan bedah robotik untuk mengobati penyakit. Bahkan menurut mereka, operasi yang dilakukan dokter berpengalaman seringkali membutuhkan sayatan lebih kecil dibanding sayatan bedah robotik, jadi risiko komplikasinya lebih minim. Selain itu, tangan manusia dianggap lebih luwes dalam mengoperasikan pisau bedah ketimbang tangan robot.
“Bedah robotik jelas lebih mahal dan ada kalanya beberapa penyakit sebenarnya tak perlu diobati dengan bedah robotik, melainkan dengan bedah konvensional biasa yang lebih murah, karena tangan dokter lebih luwes dari mesin,” kata Dr. Kam Ming Hian, konsultan senior bedah kolorektal di Singapore General Hospital.
Walau demikian, dr Kam menjelaskan bahwa memang ada beberapa penyakit yang lebih efektif ditangani menggunakan bedah robotik ketimbang teknik konvensional, yaitu untuk operasi prostat, operasi kandungan atau ginekologi, dan operasi rektum. Penyebabnya ada pada kelebihan tangan mesin yang dapat berputar 360 derajat.
“Bagian tersebut terletak pada bagian pelvis (tulang panggul) yang tertutup tulang. Jika menggunakan tangan, dokter kesulitan menjangkau bagian ini. Dengan lengan robot yang lebih kecil dan bisa berputar 360 derajat, bedah robotik dapat melakukan teknik yang tak bisa dilakukan dengan tangan biasa,” ujar dr Kam.
Sumber :DetikHealt







0 komentar:
Posting Komentar