Selasa, 26 Januari 2021

PT Rifan - Pendeteksi Covid-19 GeNose Siap Dipasang di Stasiun, Gantikan Tes Swab


PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Tak ada keraguan di wajah Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Dalam kunjungannya di Stasiun Kereta Api Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (23/1/2021), Luhut langsung mencoba alat deteksi GeNose dengan cara menghembuskan napas ketiga ke dalam kantung yang telah disiapkan.


Hasilnya, alat GeNose buatan tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menyatakan Luhut negatif Covid-19. Dia pun tampak semringah dan langsung mempromosikan alat tersebut. Luhut mengatakan, alat GeNose ini telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).


Kelebihan alat ini, bisa mendeteksi lebih cepat dan harga yang relatif lebih murah dengan akurasi di atas 90 persen, ujar Luhut memuji GeNose.


BACA JUGA : POLITIK DALAM NEGERI - KPK Mendalami Kasus Suap di Pemkab Indramayu Lewat 5 Legislator Jabar


Tak heran kalau Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang mendampingi Luhut hari itu mengatakan bahwa pemerintah akan mendorong penggunaan alat deteksi Covid-19 GeNose di simpul-simpul transportasi umum, seperti di stasiun kereta api, bandara, pelabuhan dan terminal.


Namun, tak semua pihak sepakat jika GeNose ditempatkan di banyak lokasi yang menjadi tempat orang berkerumun atau bepergian seperti stasiun kereta api. Salah satunya Kabid Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Masdalina Pane. 


Dia mengatakan, saat ini GeNose baru memiliki izin edar, sementara pengujian juga masih dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Sehingga, dia masih menanti keterangan resmi dari Kemenkes sebagai representasi pemerintah.


"Dari Kemenkes sendiri sebenarnya standar untuk diagnostik maupun screening itu GeNose belum masuk dalam standar. Jadi saat ini masih rapid antigen sama PCR (yang digunakan untuk tes Covid-19)," ujar Masdalina kepada Liputan6.com, Senin (25/1/2021).


Dia tak mempermasalahkan inovasi yang dilakukan, namun terkait keberadaan GeNose dia menilai belum bisa diimplementasikan secara massal, kecuali kalau GeNose sudah bisa membuktikan efektivitasnya dengan clinical trial.


Selama ini yang dilakukan bukan clinical trial kalau menurut saya, jadi secara keilmuan saya enggak terlalu mendukung, apalagi kan untuk Covid-19 ini karena transmisinya sangat cepat dan luas. Memang sudah ada uji coba, tetapi bukan clinical trial, tegas Masdalina.


Dia mengatakan, kalau ingin mengetahui efektivitas GeNose, yang harus dilakukan adalah clinical trial. Walaupun GeNose hanya alat, orang sering menyangka clinical trial itu hanya pada obat dan vaksin, padahal untuk alat juga sebenarnya harus dilakukan clinical trial.


Jadi kalau saya mengatakan alat ini belum bisa menggantikan tes yang sudah ada, seperti tes swap atau PCR, ujar Masdalina.


Kalau dari klaimnya, lanjut dia, GeNose ini mampu mendeteksi adanya virus dan struktur virus, sementara letak virus itu sendiri cukup dalam, yaitu di bagian faring (saluran yang terletak di antara trakea dan hidung) atau nasofaring (bagian atas tenggorokan yang terletak di belakangan hidung).


Jadi sebenarnya tidak bisa dideteksi di luar. Itu kan menggunakan udara yang disemprotkan dan sebenarnya ada kelemahan. Saya kira sudah banyak penjelasan tentang kelemahan dalam uji klinis GeNose sendiri, tutur Masdalina.


Sejauh ini menurut saya Kemenkes belum mengeluarkan rilis, mengeluarkan izin edar itu yang suka digunakan sebagai pembenaran bahwa itu bisa dilakuan secara massal, padahal sebenarnya tidak untuk itu, dia menandaskan.







PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Gfr

0 komentar:

Posting Komentar