Senin, 28 Juli 2025

Daya Tarik Dolar AS dan Dampaknya terhadap Mata Uang Asia



 PT Rifan Financindo Berjangka - Bursa saham Asia mengalami penurunan pada perdagangan Rabu, 24 Juli 2025, menghentikan tren penguatan enam hari beruntun. Ketidakpastian terkait arah kebijakan suku bunga Federal Reserve menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan investor, mendorong aksi ambil untung dan pelepasan aset berisiko di berbagai bursa utama kawasan.

Indeks MSCI Asia Pasifik (di luar Jepang) turun sebesar 0,72%, dengan tekanan terbesar berasal dari sektor teknologi dan keuangan. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang merosot 1,15%, dipicu pelemahan saham-saham semikonduktor. Indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,93%, dan Kospi Korea Selatan juga menurun 0,88%. Bursa saham Tiongkok turut melemah, dengan indeks Shanghai Composite turun 0,56%.

The Fed dan Prospek Suku Bunga: Sumber Kekhawatiran Global

Para pelaku pasar global saat ini menantikan hasil pertemuan FOMC pada pekan ini untuk mendapatkan kejelasan arah kebijakan moneter AS. Data inflasi yang masih berada di atas target, ditambah dengan pernyataan hawkish dari beberapa pejabat The Fed, membuat kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin kecil.

Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya menyatakan bahwa kebijakan akan tetap berbasis data, tetapi menegaskan pentingnya "disiplin inflasi." Hal ini membuat pelaku pasar meninjau ulang ekspektasi mereka, yang sebelumnya memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama terjadi pada kuartal keempat 2025.


Aksi Ambil Untung dan Koreksi Sektor Teknologi

Sektor teknologi yang menjadi pendorong utama rally selama beberapa hari terakhir mengalami koreksi tajam. Saham-saham seperti TSMC, Samsung Electronics, dan Alibaba mengalami tekanan jual setelah sebelumnya mencatatkan kenaikan signifikan akibat optimisme kecerdasan buatan (AI) dan permintaan chip global.

Di Jepang, saham Tokyo Electron dan Advantest turun lebih dari 2%, sementara di Korea Selatan, saham SK Hynix terkoreksi setelah sempat mencapai level tertinggi dalam 20 bulan. Hal ini mencerminkan rotasi sektor yang terjadi secara alami setelah lonjakan valuasi yang cukup tajam dalam waktu singkat.


Dolar AS kembali menguat terhadap mayoritas mata uang Asia menyusul meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi di AS. Nilai tukar yen Jepang turun ke level 158 per dolar, level terlemah sejak awal Juli. Di sisi lain, won Korea Selatan dan dolar Taiwan juga mengalami depresiasi, menambah tekanan terhadap saham-saham lokal, terutama perusahaan berbasis ekspor.

Ketegangan nilai tukar ini meningkatkan risiko arus keluar modal asing dari negara-negara berkembang di Asia, memperburuk tekanan pada bursa saham domestik.

Tiongkok dan Ketidakpastian Ekonomi Domestik

Sentimen pasar terhadap Tiongkok juga menjadi faktor penting dalam pelemahan bursa regional. Pemerintah Tiongkok belum mengumumkan stimulus besar yang diharapkan pelaku pasar untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB kuartal kedua hanya 4,7%, di bawah ekspektasi pasar yang berada di kisaran 5,2%.

Saham sektor properti seperti Country Garden dan Evergrande kembali terkoreksi, mencerminkan masih tingginya kekhawatiran atas utang sektor swasta. Indeks sektor properti Tiongkok turun lebih dari 2,1%, dan investor global memilih mengurangi eksposur terhadap aset Tiongkok.

Strategi Investor Menjelang Keputusan The Fed

Menjelang keputusan penting The Fed, investor institusi mengambil sikap defensif. Permintaan terhadap aset safe haven seperti obligasi pemerintah AS dan emas meningkat. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kembali naik ke 4,35%, sedangkan harga emas menguat ke USD 2.438 per troy ounce.

Sementara itu, volatilitas pasar diperkirakan akan tetap tinggi hingga keluarnya keputusan suku bunga resmi. Banyak pelaku pasar memilih untuk menunggu dan melihat sebelum kembali masuk ke pasar ekuitas Asia.

Outlook Jangka Pendek Pasar Asia

Meskipun tekanan jangka pendek masih membayangi, kami menilai bahwa koreksi ini bersifat sehat dalam konteks konsolidasi pasca reli signifikan. Jika The Fed memberikan sinyal dovish, maka potensi rebound di pasar Asia sangat terbuka. Namun, investor tetap disarankan mencermati perkembangan makroekonomi, data inflasi, dan dinamika geopolitik kawasan.

PT Rifan Financindo Berjangka - Glh

  • Sumber : News Maker 23 - Indonesia News Portal for Traders

0 komentar:

Posting Komentar