Rabu, 17 September 2025

Serangan ke Kilang Rusia dan Dampaknya pada Pasokan

 

PT Rifan Financindo Berjangka  - Harga minyak dunia kembali mencatat kenaikan moderat pada perdagangan terakhir, dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan akibat serangan terhadap infrastruktur energi Rusia. Ketegangan geopolitik yang terus berlanjut membuat para pelaku pasar mempertimbangkan potensi gangguan distribusi, sementara permintaan global menunjukkan ketahanan yang relatif stabil.

Minyak mentah Brent diperdagangkan mendekati USD 93 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bergerak di sekitar USD 90 per barel. Pergerakan harga ini mencerminkan kombinasi antara faktor geopolitik, kondisi pasokan global, serta dinamika permintaan dari negara konsumen utama.


Beberapa fasilitas penyulingan Rusia dilaporkan menjadi target serangan drone dalam beberapa pekan terakhir. Infrastruktur yang terganggu meliputi unit produksi dan jalur distribusi yang memainkan peran penting dalam ekspor minyak mentah serta produk olahan. Rusia sebagai salah satu eksportir utama dunia tentu menjadi sorotan, karena setiap gangguan produksi berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan global.

Gangguan ini memunculkan risiko tambahan di pasar energi, mengingat Rusia selama ini menyalurkan jutaan barel per hari ke pasar internasional. Selain itu, sanksi yang masih diberlakukan oleh negara-negara Barat membuat opsi pemulihan pasokan menjadi semakin terbatas.

Faktor Fundamental yang Mendorong Harga Minyak

Selain faktor geopolitik, ada sejumlah variabel fundamental yang terus mendorong tren harga minyak:

  1. Permintaan Global yang Solid – Ekonomi Tiongkok dan India sebagai konsumen energi utama menunjukkan sinyal pemulihan bertahap.
  2. Kebijakan OPEC+ – Organisasi negara pengekspor minyak dan sekutunya masih menahan tingkat produksi untuk menjaga keseimbangan harga.
  3. Cadangan Minyak AS – Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan penurunan cadangan minyak mentah, menandakan konsumsi domestik yang tinggi.
  4. Tekanan Inflasi dan Kebijakan Moneter – Harga energi yang tinggi berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga, terutama oleh Federal Reserve.

Reaksi Pasar dan Investor

Pasar komoditas memperlihatkan volatilitas tinggi. Investor institusional cenderung melakukan lindung nilai (hedging) melalui kontrak berjangka, sementara trader jangka pendek memanfaatkan fluktuasi harga. Indeks saham energi juga mencatat penguatan, dipimpin oleh perusahaan minyak besar yang mendapat keuntungan dari harga yang lebih tinggi.

Prospek Jangka Menengah dan Panjang

Dalam jangka menengah, harga minyak diperkirakan akan tetap berada pada level tinggi jika risiko geopolitik terus berlanjut. Pengetatan pasokan dari Rusia dan kebijakan produksi OPEC+ menjadi faktor dominan. Namun, jika terjadi pelonggaran sanksi atau peningkatan produksi dari negara non-OPEC, harga bisa mendapat tekanan korektif.

Jangka panjang, transisi energi global menuju energi terbarukan tetap menjadi tantangan struktural bagi industri minyak. Namun dalam waktu dekat, minyak mentah masih akan menjadi pilar utama dalam memenuhi kebutuhan energi dunia.

PT Rifan Financindo Berjangka  - Glh

Sumber : NewsMaker

0 komentar:

Posting Komentar