PT Rifan Financindo Berjangka - Kondisi terkini: OPEC+ – kelompok negara penghasil minyak utama – memutuskan untuk menaikkan produksi minyak mulai Oktober 2025 meskipun permintaan global menunjukkan tanda-tanda melambat. (Reuters)
Peningkatan ini relatif kecil jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, sebagai langkah kehati-hatian karena kekhawatiran kelebihan pasokan dan penurunan permintaan. (Reuters)
Di artikel ini, kita akan membahas secara mendalam faktor penyebab situasi ini, implikasi untuk harga minyak & ekonomi global, serta proyeksi ke depan.
Faktor Pemicu Peningkatan Produksi oleh OPEC+
Tekanan untuk Memulihkan Pangsa Pasar
- Saudi Arabia dan sekutunya dalam OPEC+ ingin meningkatkan volume produksi untuk memperkuat dominasi pasar, terutama menghadapi persaingan dari produsen non-OPEC yang biaya produksi lebih tinggi tapi fleksibel. (Reuters)
- Ada keinginan strategis mengurangi ketergantungan pada keuntungan dari harga tinggi saja, beralih ke kombinasi volume + harga agar bisa bertahan jika harga jatuh. (Reuters)
Ketidakpastian Permintaan Global
- Permintaan menurun di beberapa ekonomi utama seperti China dan India. (Reuters)
- Aktivitas ekonomi yang melambat, inflasi tinggi, kebijakan tarif (terutama AS) yang memicu ketidakpastian perdagangan global. (Reuters)
Inventori & Penawaran Non-OPEC yang Meningkat
- Non-OPEC banyak memperluas produksi (Amerika Serikat, Brazil, Kanada dll), sehingga suplai global menjadi lebih besar. (U.S. Energy Information Administration)
- Laporan dari EIA memperkirakan inventori minyak global akan meningkat cukup besar di paruh kedua tahun 2025, memberi tekanan pada harga. (U.S. Energy Information Administration)
| Dampak | Keterangan |
|---|---|
| Tekanan Penurunan Harga | Meskipun kenaikan produksi relatif kecil (±137.000 bpd mulai Oktober) dibandingkan dengan kuota sebelumnya, efek kumulatif dari suplai yang terus meningkat dan permintaan yang melemah menekan harga minyak. (Reuters) |
| Ketidakstabilan Harga Jangka Menengah | Karena OPEC+ tetap memiliki opsi untuk menyesuaikan produksi (menaikkan, menurunkan, atau membatalkan kenaikan) tergantung kondisi pasar. (Reuters) |
| Dampak Makroekonomi | - Inflasi energi mungkin lebih terkendali di negara pengimpor minyak. - Negara pengekspor yang tergantung pada pendapatan minyak mungkin menderita bila harga turun drastis. - Investasi di sektor energi tinggi biaya mungkin terhambat jika harga minyak tidak stabil atau rendah. |
| Pengaruh terhadap Produksi Non-OPEC | Produsen shale di AS dan proyek energi alternatif akan merasakan dampak—baik dari segi margin keuntungan maupun keberlanjutan capex. (MarketWatch) |
Proyeksi Ke Depan & Skenario
Proyeksi Inventori & Harga
- EIA memperkirakan bahwa inventori akan ‘build up’ rata-rata lebih dari 2 juta barel per hari pada kuartal-empat 2025 & awal 2026, yang akan membuat tekanan penurunan harga semakin kuat. (U.S. Energy Information Administration)
- Harga Brent diperkirakan turun mendekati US$ 59/barel di 4Q2025, dan mungkin lebih rendah mendekati US$ 50-55/barel jika kondisi permintaan tetap lemah. (U.S. Energy Information Administration)
PT Rifan Financindo Berjangka - Glh
Sumber : NewsMaker







0 komentar:
Posting Komentar