PT Rifan Financindo Berjangka - Dolar Amerika Serikat (USD) kembali mengalami pelemahan signifikan pada awal Oktober 2025, mendekati level terendah dalam sepekan. Penyebab utama tekanan ini adalah meningkatnya ketidakpastian politik akibat ancaman penutupan pemerintah AS (government shutdown) yang semakin nyata. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap kelanjutan data ekonomi penting, termasuk laporan ketenagakerjaan (NFP) yang dijadwalkan rilis akhir pekan ini.
Dampak Potensial Shutdown terhadap Ekonomi AS
Penutupan pemerintahan akan memengaruhi berbagai sektor penting:
-
Keterlambatan publikasi data ekonomi utama, seperti laporan pekerjaan dan inflasi.
-
Gangguan pada layanan publik, termasuk program sosial dan pengawasan ekonomi.
-
Tekanan terhadap pasar keuangan, dengan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven seperti emas dan yen.
Presiden AS memperingatkan bahwa shutdown kali ini dapat memicu langkah-langkah “tidak dapat diubah” terhadap sejumlah program vital.
Pasar Tenaga Kerja Mulai Melemah
Data terbaru menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan pada sektor ketenagakerjaan AS. Meskipun jumlah lowongan kerja sedikit meningkat, jumlah pekerja aktif justru menurun, menandakan perlambatan ekonomi yang lebih luas. Hal ini meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Reaksi Pasar Valuta Asing: Dolar Tertekan, Yen Menguat
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama seperti euro (EUR) dan yen Jepang (JPY). Yen mengalami penguatan setelah tiga hari pelemahan beruntun, mencerminkan peningkatan permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Sementara itu, trader mulai mengabaikan survei Tankan Jepang, yang biasanya menjadi indikator utama kebijakan suku bunga Bank of Japan (BOJ). Fokus pasar kini tertuju pada langkah kebijakan moneter dari The Fed dan BOJ di akhir bulan.
Ekspektasi Pasar terhadap Kebijakan Suku Bunga
Para pelaku pasar memperkirakan 97% kemungkinan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 0,25% pada pertemuan bulan ini. Di sisi lain, BOJ diprediksi dapat menaikkan suku bunga pada akhir Oktober sebagai langkah penyeimbangan kebijakan moneter, menambah ketidakpastian terhadap arah pergerakan nilai tukar global.
Dampak Global: Aset Safe Haven Jadi Pilihan
Ketidakpastian di AS mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman:
-
Emas naik mendekati rekor tertinggi.
-
Obligasi pemerintah AS mengalami peningkatan permintaan.
-
Mata uang safe haven seperti yen dan franc Swiss menguat.
Langkah ini menggambarkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi AS di tengah gejolak politik.
Implikasi bagi Investor dan Pelaku Pasar
Kami menilai bahwa kombinasi antara:
-
Ketidakpastian politik,
-
Data ketenagakerjaan yang melemah,
-
Dan potensi perubahan kebijakan moneter
akan menciptakan volatilitas tinggi di pasar mata uang dalam beberapa minggu mendatang. Para investor disarankan untuk:
-
Memantau perkembangan negosiasi anggaran AS,
-
Menganalisis kebijakan suku bunga global, dan
-
Mengalokasikan portofolio ke aset defensif guna mengurangi risiko.
PT Rifan Financindo Berjangka - Glh
Sumber : NewsMaker







0 komentar:
Posting Komentar