Senin, 06 Oktober 2025

Investor Fokus ke Keputusan OPEC+ Minggu Ini

    

PT Rifan Financindo Berjangka  - Harga minyak global terus tertekan menjelang pertemuan penting OPEC+ akhir pekan ini. Minyak mentah Brent kini berada di sekitar USD 64 per barel, mencatat penurunan mingguan hampir 8%, sementara WTI turun di bawah USD 61. Sentimen pasar memburuk akibat ekspektasi bahwa OPEC+ akan meningkatkan pasokan pada bulan November untuk merebut kembali pangsa pasar, memicu kekhawatiran akan kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global.

Prospek Pasokan: OPEC+ Siap Naikkan Produksi

Aliansi produsen OPEC+ dijadwalkan melakukan pertemuan daring pada hari Minggu, dengan agenda utama membahas output bulan November. Beberapa negara anggota, termasuk Arab Saudi dan Rusia, diperkirakan akan mendukung pemulihan pasokan tertunda demi menjaga dominasi pasar di tengah meningkatnya produksi dari Amerika Serikat dan negara non-OPEC lainnya. Menurut survei Bloomberg, OPEC telah menaikkan produksi sebesar 400.000 barel per hari (bph) pada September 2025. Lonjakan ini melanjutkan rollback dari pemangkasan besar tahun 2023. Arab Saudi sendiri disebut mulai menambah pasokan sesuai kuota yang disepakati.

IEA Peringatkan Potensi Surplus Tertinggi dalam Sejarah

International Energy Agency (IEA) memperkirakan surplus minyak dunia akan mencapai rekor tertinggi pada 2026, seiring berakhirnya pembatasan produksi OPEC+. Lonjakan pasokan diperkirakan akan jauh melampaui permintaan global, terutama jika pertumbuhan ekonomi global melambat akibat tekanan inflasi dan suku bunga tinggi. Beberapa bank investasi besar di Wall Street seperti JPMorgan dan Goldman Sachs memperkirakan harga Brent bisa turun ke kisaran USD 50-an jika tren ini berlanjut. JPMorgan menyebut September 2025 sebagai titik balik menuju surplus besar, menandai perubahan signifikan dari kondisi pasar yang sebelumnya ketat.

Dampak Fundamental: Tekanan dari Permintaan Lemah dan Ekonomi Global

Melemahnya permintaan dari Tiongkok, selaku konsumen terbesar kedua dunia, memperparah tekanan harga. Data PMI manufaktur menunjukkan pelemahan aktivitas industri, sementara konsumsi bahan bakar di Amerika Serikat juga menurun pasca musim panas. Faktor ini menambah kekhawatiran bahwa permintaan tidak akan mampu menyerap lonjakan pasokan dari OPEC+. Selain itu, penguatan dolar AS memperburuk situasi karena membuat harga minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Indeks Dolar naik mendekati level tertinggi dalam dua bulan, memberikan tekanan tambahan pada komoditas berbasis dolar.

Analisis Teknis: Arah Harga Masih Bearish

Secara teknikal, harga minyak Brent berada dalam tren turun jangka pendek dengan support kuat di USD 62,50 dan resistance di USD 66,80. Jika penembusan di bawah USD 62 terjadi, target berikutnya berada di kisaran USD 59,80. Sementara WTI berpotensi menguji level psikologis USD 60.


Investor global kini menanti hasil rapat resmi OPEC+ yang akan diumumkan Minggu malam. Setiap keputusan mengenai penambahan pasokan atau penyesuaian kuota produksi akan sangat menentukan arah harga minyak di minggu mendatang. Jika OPEC+ benar-benar meningkatkan produksi secara agresif, penurunan harga lebih lanjut sangat mungkin terjadi. Sementara itu, pelaku pasar juga mencermati data stok minyak mentah AS serta proyeksi permintaan global dari IEA dan EIA. Jika data-data tersebut memperkuat sinyal surplus, sentimen bearish akan semakin dominan.

Kesimpulan: Risiko Harga Minyak ke Depan

Dengan kombinasi kenaikan produksi, permintaan lemah, dan dolar kuat, risiko penurunan harga minyak semakin besar. Kami memperkirakan volatilitas akan meningkat menjelang pertemuan OPEC+, dengan potensi penurunan menuju level USD 60 jika keputusan memperbesar pasokan dikonfirmasi. Investor disarankan untuk memonitor hasil rapat OPEC+ dan data ekonomi global secara ketat sebagai panduan dalam menentukan strategi jangka pendek.


PT Rifan Financindo Berjangka  - Glh

Sumber : NewsMaker

0 komentar:

Posting Komentar